Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Sebaran Siswa Inklusi Kota Batu Tembus 406 Anak, Jenjang SD Terbanyak Belajar di Sekolah Reguler

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

03 - Jun - 2026, 16:47

Placeholder
Ilustrasi. Sekolah reguler di Kota Batu telah mengajar siswa inklusi atau berkebutuhan khusus yang menjadi satu kelas dengan siswa lain, total mencapai 406 siswa se-Kota Batu.(Foto: Prasetyo Lanang/ JatimTIMES)

JATIMTIMES – Pemenuhan pendidikan kesetaraan yang ramah disabilitas dan bebas diskriminasi tengah dipacu secara masif oleh Dinas Pendidikan Kota Batu. Langkah nyata tersebut dibuktikan dengan semakin terbukanya pintu sekolah umum atau reguler bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK), di mana hingga tahun ajaran ini tercatat sebanyak 406 siswa inklusi telah resmi membaur dan belajar bersama dengan siswa reguler lainnya.

Ratusan anak istimewa tersebut saat ini tersebar di berbagai tingkat penjenjangan mulai dari usia dini hingga menengah pertama di seluruh wilayah Bumi Kota Wisata. Secara rinci, kelompok Kelompok Bermain (KB) menampung sebanyak 47 siswa yang tersebar di 24 sekolah, diikuti oleh jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) dengan sebaran 88 siswa di 21 lembaga pendidikan.

Baca Juga : DPRD Surabaya Minta Tak Ada Anak Putus Sekolah dalam SPMB 2026

Sementara itu, grafik penyerapan paling jumbo berada di tingkat Sekolah Dasar (SD) yang sukses merangkul 217 siswa inklusi di 22 sekolah, serta jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mencatat 54 siswa di 8 sekolah. Disebutkan demikian sebaran aksesibilitas bagi anak penyandang disabilitas kini telah merata di seluruh lini dasar pendidikan daerah.

“Sejauh ini total sudah ada 75 lembaga sekolah yang sangat aktif melakukan pembaruan data melalui tautan pelaporan siswa berkebutuhan khusus milik dinas, dan angka ini dipastikan masih bergerak dinamis seiring proses verifikasi lapangan yang terus berjalan,” terang Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, Rabu (3/6/2026).

Alfi memaparkan, pergerakan data tersebut masih terus dipantau karena terdapat beberapa satuan pendidikan yang masih merampungkan proses input penyerapan siswa inklusi ke dalam sistem database terpadu. Masuknya ratusan anak berkebutuhan khusus ke sekolah umum ini sekaligus menjadi bukti kepatuhan pemerintah daerah dalam mengimplementasikan instruksi Kementerian Pendidikan terkait alokasi kuota afirmasi minimal 2 hingga 5 persen dari total daya tampung sekolah.

Langkah taktis penataan ruang belajar ini juga diperkuat oleh payung hukum terbaru, yakni Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 48 Tahun 2023. Regulasi tersebut mengatur secara ketat kewajiban penyediaan akomodasi yang layak dan ramah bagi peserta didik penyandang disabilitas pada seluruh jenjang satuan pendidikan formal di tanah air.

Kendati demikian, implementasi penggabungan siswa inklusi ke sekolah umum ini disikapi dengan penuh kehati-hatian agar tidak sekadar menjadi formalitas administratif pemenuhan kuota semata. Otoritas pendidikan daerah menegaskan bahwa kehadiran anak-anak istimewa ini wajib dibarengi dengan jaminan lingkungan dan ekosistem belajar yang sehat, aman, serta suportif.

Peran aktif dari guru kelas beserta Guru Pendamping Khusus (GPK) diposisikan sebagai garda terdepan untuk memutus total mata rantai tindakan perundungan (bullying) maupun stigma negatif. Sistem pengawasan di lingkungan sekolah diperketat, terutama pada jam-jam rawan seperti waktu istirahat dan jam pulang sekolah, lengkap dengan standardisasi aturan anti-perundungan yang tegas.

Baca Juga : Potensi Pasar Internasional Produk Hortikultura Tak Tergarap Maksimal, Pemkot Batu Bentuk Paguyuban Eksportir

“Kehadiran mereka harus dibarengi dengan jaminan ekosistem belajar yang sehat, karena tekanan psikologis atau stres akibat takut di-bully justru akan membuat mental anak-anak kita jatuh dan enggan untuk bersekolah lagi,” tutur Alfi menekankan pentingnya intervensi psikologis di kelas.

Para pendidik kini dituntut memiliki kepekaan tinggi dalam memodifikasi metode pembelajaran adaptif, seperti penempatan posisi duduk strategis di barisan depan hingga penyediaan alat bantu belajar yang sesuai. Melalui pola pendampingan yang tepat, anak-anak inklusi dinilai akan jauh lebih siap secara biologis otak untuk menyerap materi ilmu pengetahuan secara setara.

Keberhasilan lembaga sekolah reguler dalam membaurkan dan melindungi siswa inklusi ini secara tidak langsung diplot sebagai panggung percontohan pendidikan karakter yang konkret bagi siswa umum lainnya. Budaya saling menjaga, menghargai perbedaan, serta menumbuhkan empati sejak dini diyakini menjadi roh utama yang menghidupkan jiwa dari sekolah inklusi tersebut.


Topik

Pendidikan Siswa Inklusi Kota Batu Jenjang SD Belajar Sekolah Reguler



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Lumajang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Sri Kurnia Mahiruni