JATIMTIMES - Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan adanya serangan pesawat tak berawak yang menyasar fasilitas energi di wilayah Fujairah. Insiden ini menambah panjang daftar konflik di jalur strategis perdagangan global, khususnya di sekitar Selat Hormuz yang selama ini menjadi titik krusial distribusi minyak dunia.
Pemerintah Iran dengan tegas membantah tuduhan sebagai dalang di balik serangan tersebut. Seorang pejabat militer Iran, seperti dikutip dari AFP, menyatakan bahwa Teheran tidak pernah merencanakan apalagi melancarkan serangan terhadap negara tetangga, termasuk Uni Emirat Arab.
Baca Juga : Bukan Air Putih atau Kopi, Ini Minuman Pagi yang Diyakini Bantu Awet Muda
Menurut pejabat tersebut, situasi yang terjadi justru merupakan dampak dari aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Ia menuding operasi militer AS bertujuan membuka jalur bagi kapal-kapal untuk melintasi wilayah yang dianggap terlarang di Selat Hormuz secara ilegal.
“Republik Islam Iran tidak memiliki agenda menyerang fasilitas minyak. Apa yang terjadi merupakan konsekuensi dari tindakan militer AS. Mereka harus bertanggung jawab atas eskalasi ini,” ujarnya, dikutip Selasa (5/5/2026).
Sementara itu, pihak UEA mengungkapkan bahwa serangan drone tersebut menyebabkan tiga warga negara India mengalami luka-luka. Pemerintah Abu Dhabi mengecam keras insiden ini dan menyebutnya sebagai bentuk “eskalasi berbahaya”, terutama karena terjadi di tengah upaya gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Kementerian Pertahanan UEA mencatat adanya total 15 serangan udara yang diduga berasal dari Iran. Serangan tersebut terdiri dari 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, serta empat drone. Namun, sebagian besar serangan diklaim berhasil dicegat oleh sistem pertahanan mereka.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan rencana untuk mengawal kapal-kapal tanker yang terjebak di sekitar Selat Hormuz. Langkah ini diambil untuk memastikan jalur distribusi energi tetap berjalan di tengah meningkatnya konflik.
Kebijakan tersebut mendapat penolakan dari parlemen Iran yang menilai pengawalan kapal oleh AS sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Bahkan, media pemerintah Iran melaporkan bahwa angkatan laut mereka sempat melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal perang AS di kawasan tersebut.
Baca Juga : Parkir Liar dan Penyeberang Jalan Semrawut di Jalur Sepeda Jadi Sorotan Dishub Kota Malang
Trump juga mengklaim bahwa pasukan AS telah menghancurkan tujuh kapal kecil militer Iran, dengan enam di antaranya dilaporkan tenggelam. Namun, klaim ini kembali dibantah oleh pihak Iran.
Situasi di kawasan Teluk kini menjadi sorotan dunia internasional, mengingat dampaknya yang besar terhadap stabilitas geopolitik dan pasokan energi global.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan, sementara masing-masing pihak masih saling melontarkan tuduhan.
