Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Paradoks Gadget Menurut Pakar Psikologi Pendidikan: Antara Akselerasi Kecerdasan dan Ancaman Melemahnya Generasi Anak

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

29 - Apr - 2026, 18:22

Placeholder
Pakar Pendidikan UMM, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Gawai kini tak lagi sekadar alat bantu. Di tangan anak-anak, ia menjelma menjadi ruang hidup kedua yang secara halus namun konsisten membentuk pola pikir, emosi, hingga cara berinteraksi. Di titik inilah muncul sebuah paradoks yang tak bisa diabaikan. Teknologi yang dirancang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia justru berpotensi melemahkannya ketika digunakan tanpa kendali.

Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd, menyebut fenomena ini sebagai realitas global yang juga tengah terjadi di Indonesia. “Dampak teknologi itu terbagi menjadi dua. Dampak positifnya ketika anak-anak fokus belajar konten materi, seperti bahasa atau video edukasi, itu justru bagus,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu, (29/4/2026).

Baca Juga : Usul Menteri PPPA Pindahkan Gerbong Wanita ke Tengah KRL Tuai Pro Kontra, Publik Soroti Keselamatan

Dalam lanskap digital saat ini, anak-anak memang memiliki privilege akses belajar yang jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Konten visual interaktif, video pembelajaran, hingga gim edukatif mampu menjadi medium akselerasi kognitif. Bahkan, menurut Arina, tayangan berbahasa asing seperti kartun atau video edukasi dapat menjadi stimulus efektif dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak.

Namun, di balik potensi itu, tersimpan sisi gelap yang kerap luput dari perhatian. Ketika penggunaan gadget tidak terkelola, anak-anak terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai over-stimulation tanpa makna. Mereka aktif secara visual, tetapi pasif secara kognitif.

Arina mencontohkan fenomena anak yang tenggelam dalam gim digital. “Anak-anak itu terlena. Dipanggil orang tuanya saja tidak dengar karena fokus bermain,” katanya. Situasi ini menunjukkan terjadinya disrupsi atensi, ketika fokus anak sepenuhnya tersedot ke layar dan mengabaikan realitas sosial di sekitarnya.

Dampaknya tidak berhenti pada perilaku sesaat. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu degradasi kemampuan komunikasi. Anak menjadi minim respons, rendah inisiatif, dan cenderung hanya menjadi konsumen informasi. “Dia hanya menerima, menikmati, tapi tidak tumbuh inisiatif,” ujar Arina.

Fenomena ini berkaitan erat dengan cara kerja otak yang tidak mendapatkan stimulasi seimbang. Paparan layar yang bersifat satu arah membuat proses berpikir tidak terasah secara optimal. Arina bahkan menyinggung potensi melemahnya fungsi saraf. “Kalau terlalu sering, itu bisa melemahkan saraf. Dendrit di otak lama-lama tidak berkembang maksimal,” katanya.

Di sisi lain, muncul pula fenomena yang tak kalah menarik, yakni paradoks pada anak dengan kecerdasan tinggi. Anak yang memiliki kemampuan berpikir cepat justru berpotensi mengalami stagnasi sosial. Mereka merasa cukup belajar dari apa yang dilihat di layar, sehingga mengabaikan proses interaksi dan pembelajaran konvensional. “Kadang anak seperti ini terlihat malas, padahal dia merasa sudah tahu lebih dulu,” ujar Arina.

Kondisi ini membentuk karakter yang cenderung introver ekstrem, eksklusif, dan kurang terhubung dengan lingkungan sosial. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menciptakan kesenjangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial.

Di tengah kompleksitas tersebut, Arina menegaskan bahwa keluarga, khususnya orang tua, memegang peran strategis sebagai “control tower” dalam ekosistem pengasuhan digital. Ia menekankan bahwa ibu bukan sekadar pengasuh, melainkan arsitek utama dalam pembentukan karakter anak. “Orang tua harus tahu manajemen penggunaan teknologi di rumah. Karena ibu adalah madrasah pendidikan,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan pendidikan tidak bisa lagi hanya bertumpu pada institusi formal. Dibutuhkan intervensi yang lebih sistematis melalui kurikulum informal bagi orang tua. Gagasan ini dapat diwujudkan dalam bentuk buku saku atau panduan praktis yang berisi strategi pengasuhan di era digital, mulai dari pengaturan screen time, pola komunikasi efektif, hingga teknik membangun bonding emosional tanpa ketergantungan pada gadget.

Baca Juga : Inovasi Literasi Keliling Ramah Lingkungan di Kota Kediri, Mbak Wali Luncurkan Lingkar Kediri

“Harapannya tidak hanya ada kurikulum di sekolah, tetapi juga di rumah. Orang tua punya panduan jelas,” kata Arina. Ia menilai langkah ini sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan sosial yang solid.

Selain itu, Arina menyoroti pentingnya role model dari orang tua. Regulasi tanpa keteladanan hanya akan menjadi wacana. Karena itu, ia mendorong adanya kebijakan sederhana di rumah, seperti pembatasan penggunaan gadget dan penerapan hari tanpa gawai. “Kalau bisa, hari Minggu anak tidak menggunakan handphone. Orang tua juga harus memberi contoh,” ujarnya.

Momentum tanpa gadget ini menjadi ruang strategis untuk membangun kembali koneksi emosional yang sempat terputus oleh layar. Interaksi langsung, percakapan hangat, hingga aktivitas bersama menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter anak yang utuh.

Pada akhirnya, gawai memang menghadirkan paradoks yang tak terelakkan. Ia bisa menjadi akselerator kecerdasan, sekaligus pemicu degradasi potensi. Kuncinya terletak pada bagaimana teknologi itu dikelola.

“Kalau pembelajaran di sekolah dan di rumah berjalan selaras, maka generasi Indonesia bisa kita siapkan maksimal,” kata Arina.

Di tengah arus digital yang kian deras, pertanyaan mendasarnya bukan lagi soal boleh atau tidaknya anak menggunakan gadget. Yang lebih krusial adalah siapa yang memegang kendali. Dari situlah masa depan generasi berikutnya sedang ditentukan, perlahan namun pasti.


Topik

Pendidikan Gadget dunia anak UMM Universitas Muhammadiyah Malang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Lumajang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan