Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pemerintahan

Dinkes Ungkap Banyak Pemicu Risiko Stunting di Kota Batu Akibat Pola Asuh dan Salah Persepsi Orang Tua

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

16 - Apr - 2026, 09:17

Placeholder
Ilustrasi. Petugas Posyandu di Bumiaji Kota Batu memeriksa tumbuh kembang anak dan kesehatan ibu.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu memberikan peringatan serius terkait salah pola asuh hingga persepsi orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak. Masih banyaknya anggapan bahwa kenaikan berat badan balita sekecil apa pun sudah dianggap aman, dinilai menjadi salah satu faktor risiko terjadinya stunting di Kota Batu.

Guna memutus rantai persepsi keliru tersebut, Dinkes Kota Batu memperketat deteksi dini melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP). Salah satunya seperti yang digencarkan di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Selasa (14/4/2026).

Baca Juga : Kekurangan Guru Agama, Pemkot Batu Siapkan Skenario Batu Mengajar hingga Tarik Guru dari Swasta

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu, drg. Aditya Prasaja, menekankan bahwa kenaikan berat badan anak harus selaras dengan standar usia yang telah ditetapkan, bukan sekadar "naik" secara angka.

“Ada risiko di balik persepsi yang menganggap asal naik itu sudah cukup. Padahal, jika seorang anak seharusnya naik 300 gram tapi realitanya hanya naik 100 gram, itu sudah masuk zona waspada atau 'lampu kuning',” tegasnya, belum lama ini.

Aditya menjelaskan, perlambatan pertumbuhan yang dibiarkan tanpa penanganan akan menyebabkan grafik pertumbuhan balita merosot di bawah batas normal. Jika kondisi ini berlangsung secara berkelanjutan, maka risiko anak jatuh ke kategori stunting akan meningkat pesat.

Melalui Posyandu ILP, petugas kesehatan kini tidak hanya sekadar menimbang, tetapi lebih aktif memberikan edukasi dan intervensi langsung saat tanda-tanda perlambatan pertumbuhan mulai terdeteksi.

Mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3A2KB) itu menuturkan, selain masalah asupan gizi, pola asuh menjadi catatan penting bagi Dinkes. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, banyak balita mengalami gangguan kesehatan ringan seperti batuk dan pilek berulang yang dipicu oleh konsumsi makanan yang kurang tepat.

"Penyakit ringan yang berulang ini berdampak langsung pada penurunan nafsu makan. Akibatnya, berat badan balita sulit naik atau bahkan malah turun. Di sinilah kepekaan orang tua sangat diuji," tambah dia.

Baca Juga : Selter Sekda Kota Batu Sepi Peminat? Pj Sekda Tegaskan Masih Nihil, Wawali Sebut Sudah Banyak Pendaftar

Langkah antisipasi stunting di Kota Batu kini juga dilakukan dengan sistem jemput bola. Petugas kesehatan bersama kader tidak hanya menunggu di posyandu, tetapi melakukan penyisiran ke rumah-rumah warga. Balita yang berhalangan hadir saat jadwal posyandu akan tetap dipantau dan diukur langsung di lapangan.

Melalui penguatan skrining dan edukasi masif ini, Dinkes Kota Batu berharap kesadaran orang tua dapat meningkat. Pertumbuhan anak harus dipandang secara komprehensif sesuai standar kesehatan, demi mencetak generasi masa depan Kota Batu yang sehat dan berkualitas.

“Begitu grafik pertumbuhan terlihat melambat, intervensi harus segera dilakukan. Kami tidak ingin menunggu sampai anak benar-benar masuk kategori stunting baru bertindak,” imbuhnya.


Topik

Pemerintahan Dinkes Kota Batu Pemicu Stunting Stunting Risiko Stunting Kota Batu Pola Asuh



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Lumajang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Sri Kurnia Mahiruni