free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Kota Malang Resmi Kenalkan Busana Khas Daerah di HUT Ke-112, Ini Detailnya

Penulis : Irsya Richa - Editor : Yunan Helmy

01 - Apr - 2026, 12:06

Placeholder
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat bersama wakil wali kota dan forkopimda mengenakan busana khas Kota Malang di depan Balai Kota Malang, Rabu (1/4/2026). (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Pemkot Malang resmi memperkenalkan busana khas daerah bertepatan dengan puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-112 Kota Malang, Rabu (1/4/2026). Peluncuran yang berlangsung di Balai Kota Malang ini menjadi langkah penting dalam membangun identitas visual yang merepresentasikan karakter budaya dan sejarah kota.

Busana yang dikenakan Wali Kota Malang Wahyu Hidayat tampil dominan dengan warna hitam yang memberikan kesan tegas, formal, dan berwibawa. Untuk bagian kepala, digunakan topi pet berwarna hitam yang dipadukan dengan udeng batik, menciptakan perpaduan unik antara gaya kolonial dan unsur tradisional Jawa. Kombinasi ini menjadi simbol pertemuan dua kultur yang membentuk wajah Kota Malang hingga saat ini.

Baca Juga : Warga Malang Temukan Helm Hilang lewat Marketplace, Berakhir Damai saat COD

Memasuki bagian atasan, wali kota Malang mengenakan jas berkerah rever dengan detail bordir emas yang mencolok di sejumlah bagian. Bordir tersebut menghiasi dada dari atas hingga bawah, serta pada bagian pundak yang dilengkapi shoulder loops, hingga ujung lengan. Ornamen emas timbul ini bukan sekadar hiasan, melainkan penanda tingkatan tertinggi dalam struktur busana khas yang diperuntukkan bagi kepala daerah.

Tampilan semakin lengkap dengan penggunaan selendang dan obi belt yang melingkar di bagian pinggang. Keduanya memiliki aksen pita emas serta bordir emas timbul di seluruh bagian, mempertegas kesan elegan sekaligus memperkaya nilai estetika.

Pada bagian bawah, digunakan celana panjang hitam dengan tambahan bordir emas di bagian ujung, yang kemudian dipadukan dengan sembong atau kain batik Kawung Tugu Malang sebagai elemen tradisional yang kuat.

Untuk busana perempuan pada level wali kota, desain yang dihadirkan mengusung kebaya Kartini berwarna hitam. Kebaya tersebut dihiasi bordir emas yang tersebar di bagian atas, tengah, hingga bawah, menciptakan kesan anggun namun tetap tegas.

Penampilan dilengkapi dengan selendang serta obi belt beraksen emas, serta kain panjang batik Kawung Tugu Malang sebagai bawahan. Penutup kepala atau kerudung turut menjadi bagian dari keseluruhan tampilan, memperkuat identitas dan keselarasan desain.

Selain desain utama, terdapat beberapa varian busana yang disesuaikan dengan jenjang jabatan. Pada desain untuk Wakil Wali Kota Ali Muthohirin, detail bordir emas masih dominan, namun dengan pengurangan pada intensitas dan cakupan ornamen dibandingkan desain utama. Sementara untuk eselon II dan DPRD, bordir emas lebih difokuskan pada bagian dada atas dan aksesori seperti selendang.

Lalu pada tingkat eselon III hingga lurah, desain busana dibuat lebih sederhana dengan tetap mempertahankan warna dasar hitam dan kombinasi udeng serta batik khas. Sedangkan untuk eselon IV, pelaksana, hingga masyarakat umum, desain menjadi yang paling sederhana dengan minim ornamen, namun tetap membawa identitas visual yang sama.

a

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan bahwa kehadiran busana khas ini menjadi jawaban atas kebutuhan identitas kultural yang kuat sekaligus memperkuat daya tarik Kota Malang di sektor pariwisata.

“Selama ini Kota Malang belum punya busana khas yang benar-benar ditetapkan secara resmi. Momentum HUT ke-112 ini kami manfaatkan untuk menghadirkan identitas baru yang merepresentasikan sejarah, budaya, dan karakter kota,” kata Wahyu.

Busana khas Malangan ini dirancang dengan memadukan unsur lokal yang ikonik dengan sentuhan estetika kolonial. Sejumlah simbol khas seperti Tugu Malang, bunga teratai, motif batik, hingga biji kopi diolah menjadi elemen visual yang menyatu dalam desain. Gaya yang diusung pun cenderung formal klasik elegan, terinspirasi dari kawasan heritage seperti Kayutangan dan Ijen Boulevard.

Baca Juga : HUT Ke-112 Kota Malang Jadi Refleksi, Wahyu Hidayat Tegaskan Pengabdian Lebih Utama dari Penghargaan

“Ada nilai histori yang kuat di dalamnya. Kota Malang punya perjalanan panjang, mulai dari kepemimpinan wali kota pertama hingga perkembangan saat ini. Semua itu kami tuangkan dalam filosofi busana ini, tanpa meninggalkan kearifan lokal,” imbuh Wahyu.

Wahyu menambahkan, busana khas ini nantinya tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga akan digunakan dalam berbagai agenda resmi pemerintah sebagai bentuk sosialisasi kepada masyarakat luas.

“Nanti pada upacara atau event tertentu, kami akan mengenakan busana khas Malang ini. Harapannya, masyarakat juga bisa mengenal dan ikut memiliki identitas ini,” terang Wahyu.

Ia juga menegaskan bahwa karakter budaya Kota Malang memang berbeda dengan daerah lain di sekitarnya, sehingga perlu memiliki identitas tersendiri. “Kita ini berbeda dengan Kabupaten Malang yang kuat dengan budaya kerajaan, atau Kota Batu dengan karakter wilayahnya sendiri. Kota Malang punya sejarah dan ciri khas yang unik, dan itu kami tuangkan dalam busana ini,” ujar mantan sekda Kabupaten Malang ini.

Peluncuran ini menjadi tonggak baru bagi Kota Malang dalam memperkuat identitas budaya. Tak hanya sebagai simbol visual, busana khas ini diharapkan mampu menjadi representasi jati diri masyarakat sekaligus memperkaya khazanah budaya daerah di tingkat nasional.


Topik

Peristiwa Kota Malang busana khas HUT ke-112



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Lumajang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Yunan Helmy