Bupati Lumajang H. Thoriqul Haq M.ML menginginkan ada napak tilas perjuangan Kapten Kyai Ilyas, agar masyarakat Lumajang bisa mengetahui sejarah perjuangan Kapten Kyai Ilyas di Lumajang dalam mempertahankan kemerdekaan. Ini juga menjadi sangat penting, jika Lumajang ingin mengusulkan Kapten Kyai Ilyas menjadi Pahlawan Nasional.
Hal ini disampaikan Bupati Lumajang usai menghadiri acara bedah buku Pahlawan Santri Kapten Kyai Ilyas di Gedung NU Lumajang, pada hari ini, Rabu (31/10).
Selain itu Bupati menilai perlu dibentuk tim pencari data dan fakta tentang perjuangan Kapten Kyai Ilyas di Lumajang, karena untuk bisa ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional diperlukan kajian termasuk didalamnya data dan fakta pendukung.
"Kalau perlu dilakukan napak tilas perjuangan Kapten Kyai Ilyas agar didapatkan data dan fakta pendukung untuk menjadikan Kapten Kyai Ilyas sebagai pahlawan nasional," kata H. Thoriqul Haq kepada sejumlah wartawan.
Dalam kesempatan yang sama Bupati juga meminta untuk dilakukannya penelusuran pejuang Lumajang lainnya seperti Mayor Kamari Sampoerno. Baik Kapten Kyai Ilyas maupun Mayor Kamari Sampurno, namanya sudah diabadikan menjadi nama jalan Lumajang.
Sementara itu Abdul Halim, anak dari Kapten Kyai Ilyas yang hadir dalam acara bedah buku ini mengatakan, darah perjuangan ayahnya yakni Kapten Kyai Ilyas begitu kuat karena Kyai Ilyas Muda pada saat itu mendengar bahwa kyai-nya, yakni Kyai Anom disulut dengan rokok di bagian mukanya oleh tentara Belanda, ketika diinterogasi untuk mengetahui keberadaan Kyai Ilyas dan pasukannya.
"Bapak itu sangat marah karena karena Kyai Anom dicaci maki, ditampar dan disulut wajahnya dengan rokok. Inilah yang menyebabkan bapak marah besar sampai kemudian terus berjuang melakukan perlawanan mengusir penjajah Belanda," kata Abdul Halim.
Kapten Kyai Ilyas pada saat itu menjadi sosok yang paling dicari oleh tentara Belanda. Pertama pencarian dilakukan di markas yang sekaligus kediamannya yakni di dusun Galingan Boreng. Namun karena posisinya diketahui Belanda, Belanda pun melakukan razia dan penyerangan di Galingan.
Namun ini sudah disikapi oleh Kapten Kyai Ilyas dengan lebih dulu memindahkan pasukannya ke desa Babakan. Tempat ini kemudian dibombardir dengan tembakan oleh Belanda. Lagi-lagi Belanda kecolongan, karena pasukan kapten Kyai Ilyas sudah berpindah markas menuju desa Cakru Kencong Jember. Dari sini Kyai Ilyas tetap mengendalikan pasukannya untuk melakukan perlawanan hingga di pesisir selatan Lumajang.
