Pancasila Menggugat | Lumajang TIMES

Pancasila Menggugat

May 31, 2022 16:33
Dr. Aries Harianto, S.H.,M.H - Dosen Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Jember
Dr. Aries Harianto, S.H.,M.H - Dosen Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Jember

Aku Pancasila, bukan engkau. Aku tak kasat mata, karena hakikatku adalah nilai-nilai. Aku bukan figur yang haus dipuji dan gampang terbawa perasaan. Aku menyadari, tiap saat orang mengatasnamakan aku. Melekatkan namaku sebagai diksi untuk meyakinkan khalayak. Jangan mendeklarasikan ‘engkau Pancasila’ karena sesungguhnya engkau secara kodrati mengidap multi kepentingan yang acapkali menabrak bahkan menginjakku. Sahwatmu tidak pernah stabil untuk menginventarisasi keinginan. Apalagi mengendalikannya. Berupaya mewujudkan emosi dan nafsu kuasa atas banyak hal dengan menghalalkan segala cara tanpa ada rasa malu dan rasa bersalah terhadapku. Interaksi komunikasi antara aku dan engkau harus tegas, konkrit dan terukur. Keberadaanku sesungguhnya tergantung pada konstruksi berpikirmu, melandasi pola tindakmu serta menjadi kompas etika bertuturmu.

1 Juni konon konon katanya kelahiranku, meski aku tak pernah merasa dilahirkan. 1 Juni sebenarnya awal aku ditulis dalam Nota Kebangsaan sebagai simbol karakter dan pedoman beragam cita cita.Tiap tahun hampir semua elemen anak bangsa memperingati kelahiranku. Ada yang sebatas mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Memuji dan membanggakanku dalam forum seminar. Lebih dari itu pada hari kelahiranku juga, atas nama komunitas mengundang banyak orang untuk melakukan kenduri hingga pagelaran seni. Mulai wayang kulit, kuda lumping hingga hadrah. Semua gelaran itu diharapkan sebagai wahana agar engkau tetap otentik dengan jati diri yang berurat pada budaya dan berakar pada semangat juang kebangsaan dalam dimensiku sebagai Pancasila.

Baca Juga : Hari Lahir Bung Karno, Kota Mojokerto Siapkan Acara Istimewa Ini 

 

Selama ini aku diam tidak pernah merespon semua itu. Sengaja aku membiarkan upacara, puja puji bahkan sesaji yang engkau berikan kepadaku. Nah saatnya kini aku bereaksi karena  apa yang engkau lakukan kadang jauh dari substansi. Betapa tidak. Engkau masih tidak memahami, bahwa aku tak butuh digadang apalagi dinyatakan sakti. Aku bukan wayang yang dikendalikan dalang. Bahkan pernah ada seorang dalang yang mengumumkan bahwa aku tidak lagi suci karena hampir tiga puluh dua tahun dalam genggaman Rahwana, yakni rezim kuasa waktu itu yang disebut orde baru. Aku adalah peradaban itu sendiri yang seharusnya lekat ke manapun engkau pergi. Aku bukan benda bergerak yang gampang dibawa dan disembunyikan siapapun.

Jika engkau mencintaiku pada dasarnya rasa cinta itu tiada lain adalah refleksi kelestarian untuk kekekalan engkau sendiri. Aku menghargai komitmen konstitusional yang engkau bangun pada UUD Negara RI Tahun 1945. Tapi pahami, pengakuan saja tidak cukup tanpa aksi yang dilandasi kaidah ilmu. Kematian adalah siklus dari kelahiran. Jika engkau tempatkan aku pada fase pernah lahir, tentu saja kelak aku akan menjalani siklus kehidupan itu, yakni mati.

Engkau harus melawan lupa. Masih lekat pada memoriku, soal tumbangnya ideologi komunis. Komunisme terjungkal dengan Glasnost dan Perestorika Gorbachev adalah fakta ketidakabadian ideologi itu sendiri. Sejak saat itu dunia tidak lagi dalam genggaman bipolarisasi adi daya yang saling berhadapan. Saat ini perang ekonomi menjadikan multipolarisasi kepentingan. Melintas pagar negara sehingga negara di era sekarang menjadi sebuah desa yang terkendali oleh master otoritas supremasi ekonomi internasional. Tidak gampang dibendung karena tehnologi telah menjembatani simpul-simpul strategis kedaulatan.

Jangan lupa bahwa engkau hidup dalam sebuah zaman yang makin menyadari ketidak-sempurnaan nasib. Pengalaman, gagasan ‘sosialisme ilmiah’ yang ditawarkan oleh Marx dan Engels pernah meramalkan tercapainya ‘surga di bumi’. Sebuah masyarakat di mana kapitalisme hilang dan kontradiksi tak ditemukan lagi. Tapi cita-cita itu terbentur dengan kenyataan yang keras di akhir abad ke-20. Uni Soviet dan RRC mengubah haluan, dengan menerima ‘jalan kapitalis’ yang semula dikecam. Sosialisme pun terpuruk. Ternyata ‘ilmiah’ bukan berarti ‘tanpa salah’. Faktanya  Marxisme sebagai sebuah gagasan yang akhirnya harus mengakui bahwa dunia tak akan pernah bebas dari kontradiksi. Secara ilmiah perjuangan ke arah hegemoni diakui sebagai sesuatu yang wajar dan sah. Tapi dengan demikian, Weltanchuung yang dirumuskan sebenarnya bukan fondasi yang kedap, pejal, sudah final dan kekal, hingga meniadakan kemungkinan satu ‘faham’ menerobosnya dan mengambil-alih posisi ‘filsafat dasar’ itu.

Aku saat ini dan mendatang  dihadapkan pada ragam tekanan. Jika salah hitung mensikapi tidak menutup kemungkinan keberadaanku menjadi sama dengan ketidakberadaannya. Berkembangnya faham materialisme, sekularisme, kapitalisme, liberalisme, dan hedonisme, potensial melemahkan dan menghancurkan karakter jati diri kebangsaan. Karakteristik keyakinan yang selama ini memposisikan agama dan ketuhanan sebagai landasan religiusitas kian terkikis dengan prakmatisme material. Otoritas akal lebih diutamakan dan menjadi sumber keyakinan. Sementara hati sebagai wahana kasih dipinggirkan. Gerak prilaku terus berjalan tanpa terang Tuhan sebagai causa prima.Sila ketuhanan potensial menjadi berhala, tak berarti apa apa. Ketika integritas religius memudar maka berkembang sikap dan aksi yang menghalalkan segala cara.Kekerasan dan kejahatan menjadi cara sekaligus tujuan yang mewarnai kompetisi dalam jurang kesenjangan sosial ekonomi.

Realitas sosial menjadi miskin kepedulian. Menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai esensi Sila Kedua. Kenyataan demikian menyuburkan sub-sub entitas guna mewujudkan eksistensi dirinya dalam merespon tekanan. Melahirkan gerakan sparatis. Memecah belah persatuan dan kesatuan. Mengikis wibawa negara. Rerimbunan beringin yang menyejukkan itu menjadi terkoyak dan tercerai berai. Dalam kondisi demikian membuka ruang respon penguasa untuk menerapkan sistem otoriter. Mengesahkan tindakan kekerasan sebagai jalan merajut kembali NKRI. Stabilitas menjadi objek transaksional mengendalikan negara. Demokrasi tidak lagi menjadi telinga penguasa untuk mendengar suara dan kehendak rakyatnya. Sila kerakyatan mengubah dirinya menjadi kekerasan yang dilakukan kekuasaan. Demokrasi menjadi parodi ‘Demo (Kerasi)’. Ketika disparitas penguasa dan rakyat menganga terbuka, tentu saja akan menjadi faktor utama menghambat tumbuhnya empati nasional dalam rangka mewujudkan keadilan sosial. Sila kelima keadilan sosial tidak lebih sebatas fiksi belaka.

Baca Juga : Mengenang Buya Syafii Maarif, Sosok Ulama Sederhana yang Sangat Dihormati Gus Dur 

 

Dalam kondisi distabilitas itulah, ragam idelogi yang hampir mati mendapat ruang gerak baru. Bahkan, tumbuhkembangnya liberalisasi politik, sosial dan ekonomi yang mengitari aku, membuka kemungkinan ideologi trans-nasional ikut masuk dalam dinamika kehidupan rakyat Indonesia dengan modus operandinya yang halus, sopan dan tajam hingga aku potensial dikarantina oleh dinamika besar sejarah. Disapu oleh derasnya arus globalisasi. Disinilah pentingnya penguatan untuk aku. Bukan memuji yang pada hakikatnya menghentikan diskusi. Percakapan soal aku harus ditumbuhkembangkan. Sudah saatnya dilakukan restorasi makna kelahiranku dalam bentuk membiasakan kebenaran untuk menguatkan aku, bukan membenarkan kebiasaan yang salah untuk menjaga aku.

 

Penulis : 

Dr. Aries Harianto, S.H.,M.H - Dosen Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Jember

Topik
Dr. Aries Hasrianto SH, MH Hari Lahir Pancasila

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya