free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Khalifah Utsman dan Penyeragaman Mushaf Al-Quran: Kontroversi dan Warisan Sejarah

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Yunan Helmy

25 - Aug - 2025, 09:49

Placeholder
Ilustrasi sejarah penyeragaman mushaf Al-Quran pada masa Khalifah Utsman bin Affan, ketika mushaf resmi ditetapkan dan mushaf lain dimusnahkan demi menjaga kesatuan bacaan umat (ist)

JATIMTIMES - Langkah Khalifah Utsman bin Affan membakar mushaf-mushaf Al-Quran selain mushaf resmi yang ditetapkannya pernah menimbulkan kegelisahan besar di kalangan sahabat dan tabi’in. Meski tujuannya untuk menjaga kesatuan bacaan, kebijakan itu memicu perdebatan karena dianggap sebagai keputusan yang belum pernah dilakukan pendahulunya, Abu Bakar As-Shiddiq maupun Umar bin Khattab.

Kisah ini antara lain ditulis oleh sejarawan Muhammad Husain Haekal dalam bukunya Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaan (diterjemahkan Ali Audah, Pustaka Litera AntarNusa, 1987). Haekal mengatakan bahwa peristiwa tersebut bermula ketika Huzaifah bin al-Yaman ikut serta dalam perang di Armenia dan Azerbaijan pada tahun kedua atau ketiga masa kekhalifahan Utsman. Saat itu, pasukan Muslimin dari berbagai daerah menunjukkan perbedaan cara membaca Al-Quran. Orang-orang Syam mengikuti bacaan Miqdad bin Aswad dan Abu ad-Darda’, sementara jamaah Irak mengacu pada bacaan Abdullah bin Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari.

Baca Juga : Pemkot Surabaya Terapkan Tiga Strategi Optimalisasi Aset Daerah

Perbedaan itu kian menajam hingga menimbulkan ketegangan. Masing-masing kelompok merasa bacaan mereka lebih baik, sehingga terjadi saling tuduh, melaknat, bahkan sampai meng-kafir-kan pihak lain. 

Situasi yang nyaris berujung pada perpecahan itu membuat Huzaifah merasa khawatir. Ia segera kembali ke Madinah dan menemui Khalifah Utsman untuk mendesak agar segera diambil langkah penyelamatan. “Cepat selamatkan umat ini sebelum menemui kehancuran!” kata Huzaifah seraya menceritakan kekacauan yang ia saksikan.

Utsman memahami betapa berbahayanya perbedaan itu. Ia mengumpulkan sejumlah sahabat untuk bermusyawarah dan menyampaikan pandangannya. “Menurut hemat saya, orang harus sepakat dengan hanya satu macam bacaan. Jika sekarang kita berbeda, maka perselisihan generasi sesudah kita akan lebih parah lagi,” ujarnya. 

Atas dasar itu, Utsman meminta izin kepada Ummul Mukminin Hafsah binti Umar untuk meminjam mushaf yang dahulu dikumpulkan pada masa Abu Bakar. Mushaf tersebut kemudian dijadikan acuan penyalinan baru.

Proses penulisan dipimpin oleh Zaid bin Tsabit al-Ansari, dibantu Sa’id bin As al-Umawi, Abdullah bin Zubair, dan Abdur-Rahman bin Harits bin Hisyam. Utsman juga berpesan agar bila ada perbedaan dalam penulisan, hendaknya ditulis menurut logat Quraisy, karena Al-Quran diturunkan dengan dialek mereka. 

Setelah rampung, mushaf-mushaf itu diperbanyak dan dikirim ke berbagai wilayah penting: Syam, Mesir, Basrah, Kufah, Makkah, dan Yaman. Sementara satu mushaf disimpan di Madinah. Sejak saat itu, mushaf ini dikenal sebagai Mushaf Utsmani. 

Bersamaan dengan distribusi mushaf resmi tersebut, Utsman memerintahkan pembakaran mushaf lain yang berbeda dengan versi standar.

Kebijakan ini tidak serta-merta diterima semua pihak. Sejumlah sahabat dan tabi’in merasa keberatan. Abdullah bin Mas’ud, misalnya, menolak keras karena mushaf yang ia susun ikut dimusnahkan. Ia merasa lebih dahulu masuk Islam dibanding Zaid bin Tsabit yang ditunjuk memimpin penyalinan. Ibn Mas’ud bahkan sempat mengutip firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 161 untuk mengingatkan sahabat-sahabatnya agar tetap mempertahankan mushaf mereka.

Baca Juga : 8 Inspirasi Menu Sarapan Sehat Tanpa Minyak, Cocok untuk Clean Eating

Namun Utsman menulis surat khusus kepada Ibn Mas’ud dan para sahabat lainnya agar bersatu. Baginya, penyeragaman mushaf bukan sekadar administrasi, melainkan upaya besar untuk menghindari konflik dan perpecahan umat.

Meski sempat menuai kritik, langkah Utsman terbukti berdampak besar. Dengan adanya penyeragaman bacaan, Al-Quran tetap terjaga dalam bentuknya yang asli hingga kini. Ali bin Abi Thalib bahkan menegaskan bahwa jasa Abu Bakar dalam menghimpun Al-Quran pertama sangat besar. Namun keputusan Utsman untuk menyeragamkan bacaan tak kalah pentingnya. 

Sejarawan Haekal juga menulis bahwa bila Utsman tidak segera bertindak, pertentangan di tengah umat akan terus berlanjut dan bencana pun tak terhindarkan.

Dengan demikian, meskipun kebijakan Utsman membakar mushaf-mushaf lain pernah dianggap kontroversial, sejarah mencatat langkahnya sebagai salah satu tonggak penting dalam menjaga kesatuan umat sekaligus memastikan kemurnian Kitabullah tetap terpelihara sepanjang zaman.

 


Topik

Agama Al-Quran Utsman bin Affan mushaf Al -Quran kajian Islam sejarah Islam



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Lumajang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Yunan Helmy