JATIMTIMES – Pemerintah Kota Batu merespons kebutuhan pembenahan infrastruktur olahraga udara pasca-pembukaan Batu International Sport Tourism Festival (BISTF) IPAC 3rd Series 2026 di area landing Lapangan Songgomaruto, Kelurahan Songgokerto, Jumat (31/7/2026). Penataan kawasan pendaratan menjadi perhatian utama guna menjaga keselamatan para atlet sekaligus memenuhi standar arena internasional.
Wali Kota Batu Nurochman menegaskan bahwa keberadaan bangunan-bangunan baru di sekitar area pendaratan berpotensi mengganggu ruang gerak pilot paralayang. Menanggapi hal tersebut, Pemkot Batu bakal segera melakukan survei dan pemetaan ulang luasan lahan yang dimiliki untuk menyusun perencanaan venue yang lebih ideal dan aman.
Baca Juga : BISTF IPAC 3 2026 Kota Batu Tampilkan Persaingan 75 Atlet Top Dunia, Dongkrak Ekonomi lewat Sport Tourism
"Fasilitasi terkait landing zone ya, ini harus kita review. Mulai ada beberapa bangunan di sekitarnya mulai berdiri, ini kan nanti bisa sangat-sangat mengganggu dari kegiatan paragliding ini," ujar Nurochman saat ditemui di lokasi pendaratan Lapangan Songgomaruto, Jumat pagi.
Nurochman menjelaskan bahwa evaluasi kawasan landing zone akan dituntaskan dalam waktu dekat melalui koordinasi intensif bersama masyarakat lokal, khususnya di sisi barat lapangan.
"Makanya nanti akan segera kami cek kembali luasan wilayah yang kita miliki di sini ada seberapa. Kemudian sisi barat tadi itu kita akan komunikasikan dengan masyarakat. Khawatirnya nanti di situ berdiri bangunan yang akhirnya menjadi kurang standar landing zone-nya tentu tidak ideal dan safety-nya tidak terpenuhi," jelasnya.
Langkah konkret penataan tersebut ditargetkan rampung pada bulan ini agar fungsi venue semakin optimal. "Itu nanti akan kami pastikan di bulan-bulan inilah ya. Kita akan survei dan memetakan ini untuk kemudian bikin perencanaan-perencanaan untuk tujuannya mengoptimalisasi dan semakin layak landing zone ini sebagai alternatif (venue kompetensi)," tambah Nurochman.
Mengenai fasilitasi tambahan, Nurochman berencana mengkaji opsi perluasan arena demi mengakomodasi kebutuhan atlet kelas dunia. Termasuk kajian mengenai kemungkinan perluasan area.
"Jelas nanti akan menentukan para atlet internasional yang sangat berhitung terkait dengan safety-nya. Fasilitas lain tentu untuk UMKM yang pasti kita harus kolaborasikan," ucapnya.
Selaras dengan arahan wali kota, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Onny Ardianto membenarkan pentingnya penyempurnaan fasilitas venue, baik aspek luasan maupun prasarana umum.
Baca Juga : Dari Bangku SMK ke Juara Nasional, Alumni SMKN 1 Badegan Ponorogo Jadi Inspirasi Generasi Vokasi
"Dari venue seperti petunjuknya Pak Wali Kota, memang mungkin perlu lebih ditingkatkan lagi, baik dari segi besaran maupun safety-nya, termasuk juga dari segi fasumnya, seperti itu," kata Onny.
Ia membeberkan sejumlah tantangan operasional venue yang dihadapi panitia, terutama terkait akses jalan dan tempat istirahat atlet. Penutupan akses jalur Klemuk membuat rute mobilisasi atlet dari lokasi pendaratan kembali menuju area take-off di puncak Gunung Banyak menjadi lebih panjang dan membutuhkan penanganan khusus.
"Ada beberapa seperti akses ya, terutama akses jalan, kemudian mungkin akses untuk tempat... apa namanya, beristirahat fasilitasnya. Kemudian juga akses untuk dari atlet ketika di landing, kemudian naik lagi ke take-off. Itu memang cukup susah karena cukup panjang ya, jaraknya menjadi cukup panjang karena penutupan akses jalur Klemuk itu," urai Onny.
Guna mengatasi hambatan aksesibilitas tersebut serta mengutamakan kenyamanan peserta, panitia melakukan pembenahan armada transportasi darat dengan menggandeng komunitas lokal.
"Tapi kami berupaya maksimal agar bisa semua terlayani. Dan kami mengutamakan safety, kami menggandeng juga teman-teman dari Kawanku. Kalau tahun lalu mungkin masih menggunakan ojek roda dua, sekarang sudah menggunakan roda empat supaya para atlet bisa lebih nyaman lagi," pungkas Onny.
