JATIMTIMES – Aroma lilin malam yang pekat menyergap indera penciuman saat langkah kaki mendekat ke sebuah rumah di Desa Waru Lor, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan. Lembaran kain aneka corak terjemur di bawah terik siang itu, Kamis (9/7/2026). Di sanalah produksi batik khas bernilai seni tinggi telah jadi usaha turun-temurun.
Eni Dini Kharti mempekerjakan beberapa tetangganya untuk membantu proses membuat batik dari nol hingga siap pakai. Perempuan berusia 47 tahun itu bersama suaminya, Mahmudi, mengelola industri kecil bersama sang anak. Di tangan mereka, kain (mori) putih disulap jadi beragam motif yang indah.
Baca Juga : Wapres Gibran Tinjau Progres Tol Prosiwangi, Jasa Marga Percepat Penyelesaian
Di ruang tamu 8 kali 2,5 meter, tangan telaten Eni menata kain dan pakaian jadi di setiap sudutnya bak di galeri mapan. "Ada batik tulis dan ada batik cap, kalau yang khas di sini memang motif abstrak," tuturnya.
Batik sudah menjadi penghidupan bagi Eni dan Mahmudi sejak 2003 silam, saat di masa itu Mahmudi sendiri kesulitan mencari pekerjaan sektor formal. Batik kreasinya tidak hanya berupa kain, melainkan juga kemeja, baju terusan, hingga sarung. Di balik kain batik siap pakai, proses produksi bisa ditengok langsung di area samping dan belakang kediamannya.

Di area belakang, pemrosesan dari nol dilakukan sejak pola dibentuk, melelehkan malam, goresan canting pada motif dan proses ketok canting cap di sebelum dibubuhkan warna. Sementara di area samping, kain-kain diproses lorot atau melunturkan malam, hingga celup dan colet atau pewarnaan dan pengeringan warna.
Di antara sekat-sekat ruang produksinya, tersimpan sebuah formula teknis yang menuntut ketelitian tingkat tinggi. Kunci utama kualitas batik tulis dan cap mereka salah satunya dipengaruhi pemilihan bahan baku lilin atau malam.
"Bahan pembuatan lilin itu salah satunya pakai gondorukem dari getah pohon pinus," jelas Mahmudi sembari menunjukkan kepingan malam berwarna cokelat.
Sambil memanaskan wajan, ia menceritakan proses penyulingan getah pinus yang uapnya menghasilkan hasil sulingan, sementara endapannya menjadi gondorukem. Endapan bagian atas yang minim kotoran disebut gondorukem kuning, bahan utama untuk malam tulis agar tidak menyumbat mulut canting yang kecil. Sementara bagian bawah yang lebih kotor menjadi gondorukem hitam, yang dialokasikan khusus untuk malam popok atau mopok, yakni proses blok warna tertentu.
Kelihaian yang terlatih menjadi fondasi lahirnya produk unggulan yang diberi nama Batik Asli Leres. Mahakarya yang paling unik ialah Batik Bolak-Balik Dua Sisi. Teknik "akal-akalan" jenius ini bermula dari tantangan seorang kolektor pameran beraliran kejawen yang menginginkan motif wayang yang unik dan berbeda di pasaran.
Mahmudi memutar otak. Ia berhasil menggambar motif tokoh pewayangan seperti Petruk, Bagong, Semar, hingga Gunungan di kain bagian depan, namun ketika kain itu dibalik, motifnya berubah total menjadi guratan tanaman dan bunga.
"Istimewanya di situ, kainnya menggunakan primis (serat katun halus) yang paling tipis, tapi motif luar dan dalam bisa tidak sama dan warnanya tidak saling menembus rusak," ujar Mahmudi sembari membentangkan kain biru bermotif gunungan.
Rumitnya proses itu membutuhkan waktu pengerjaan paling singkat satu minggu penuh untuk satu lembar kain, kontras dengan batik tulis standar yang bisa diselesaikan dalam waktu empat hari, keduanya tergantung banyak warna. Atas kerumitan ekstrem tersebut, selembar kain dua wajah ini pernah laku terjual sekitar Rp1,2 juta di tingkat pengrajin.

Gempuran Rantai Pasar yang Terputus dan harga Bahan Baku yang Fluktuatif
Namun, binar mata Mahmudi meredup saat menceritakan realita pasar hari ini. Produk yang menjadi kebanggaan mereka kini justru sedang macet total, kehilangan panggung. Pandemi Covid-19 menjadi titik balik yang memutus paksa rantai pemasaran tradisional mereka. Kolektor dan perantara pameran sebelumnya yang kerap membawa batik Waru Lor ke ajang pameran besar di Jakarta, kini telah menua dan tak lagi menyerap produk Eni dan Mahmudi.
Meski dibantu sang putri untuk memasarkan secara digital, Mahmudi dan Eni kini praktis masih mengandalkan pesanan perorangan yang datang tidak menentu.
Di samping pasar pameran yang terputus jadi badai ekonomi, ditambah lagi gempuran produk sablon malam di pusat-pusat grosir modern. Sablon malam teknik replikasi massal menggunakan cetakan mesin dengan medium lilin mampu memproduksi kemeja siap pakai yang dijual murah.
"Saya ke Pasar Buaran, rasanya sudah kalah harga. Pasar sudah banyak sablon malam semua," keluh Mahmudi.
Untuk menyiasati dapur agar tetap mengepul di tengah himpitan tersebut terutama saat musim gerimis di mana proses pewarnaan terhambat, Batik Leres terpaksa menurunkan ego idealisme mereka. Mereka juga mulai banyak memproduksi daster berbahan katun santung tebal dengan harga grosir. Roda ekonomi harian mereka kini dirasa berputar melambat, sangat bergantung pada lonjakan pesanan musiman seperti menjelang hari-hari besar. Belum lagi bahan baku yang semakin mahal, utamanya kebutuhan malam padat.
"Dua minggu naiknya sudah tinggi, malam sebelumnya itu per kilo biasanya Rp 28 ribu, sekarang jadi Rp 33 ribu," ungkap pria 51 tahun itu.
Mahmudi dan Eni menyatakan akan tetap mengandalkan produksi mandiri mereka. Terus memproduksi kain batik khas usahanya, sembari berharap ada solusi nyata demi keberlanjutan regenerasi dan kelestarian identitas budaya batik tulis di Pekalongan.
Pekerjaan Rumah Regenerasi
Selain ancaman pasar dan fluktuasi harga bahan baku utama, tersimpan juga kecemasan yang cukup tinggi. Yakni punahnya estafet keahlian. Tragedi kebudayaan ini nyata terjadi di dalam rumah mereka sendiri. Anak-anak dari Mahmudi dan Eni, serta mayoritas generasi muda di Desa Waru Lor, enggan meneruskan usaha memegang canting dan bergelut dengan wajan malam. Mereka lebih memilih jalur profesi sebagai penjahit, berdagang, atau mengadu nasib ke kota besar.
Dikatakan Mahmudi, generasi muda banyak terbingkai bahwa masa depan yang aman dengan menjadi pekerja di pabrik sektor formal. "Harapan kami sebenarnya kalau bisa, ada pameran-pameran yang berjalan lagi, dan tetap ada babaran (kontrak pesanan kain berkala)," harap Mahmudi.
Saat industri batik tradisional membutuhkan tangan-tangan muda untuk melakukan digitalisasi, estafet itu justru terancam putus sepenuhnya. Padahal, batik telah lama memberikan peluang dan menjadi mata pencaharian sebagian besar masyarakat Pekalongan, terlebih Indonesia sampai menjadi warisan budaya.
Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) lewat situs resminya ikm.kemenperin.go.id menyebutkan, bahwa Industri batik merupakan salah satu subsektor yang menunjukkan geliat yang positif, baik di pasar domestik maupun internasional. Hal ini tercermin dari peningkatan nilai ekspor produk batik. Berdasarkan data BPS 2025, pada triwulan II tahun 2025 nilai ekspor produk batik mencapai US$ 5,09 juta, meningkat 27,2 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2024 sebesar US$ 3,99 juta.

Ilustrasi. Kain batik digunakan untuk ornamen hiasan salah satu hotel di Pekalongan Jawa Tengah.
Diklaim bahwa sektor industri batik telah menyerap sebanyak 200 ribu tenaga kerja yang tersebar di 11 provinsi di seluruh Indonesia. Sektor ini didominasi oleh ribuan unit usaha Industri Kecil dan Menengah (IKM) dan dikategorikan sebagai industri padat karya.
Kondisi yang dihadapi pelaku usaha di Desa Waru Lor meninggalkan catatan penting bagi implementasi program pemerintah terkait maupun kemitraan strategis. Termasuk pemberdayaan melalui Corporate Social Responsibility (CSR) Tower Bersama Infrastructure Group (TBIG).
Perusahaan telekomunikasi tersebut mengelola koperasi tempat UMKM seperti Eni dan Mahmudi berhimpun. Mereka merupakan anggota dari Koperasi Jasa Bangun Bersama TBIG. Selama ini TBIG telah melakukan upaya pelatihan yang ditujukan berbasis ekonomi sirkular, pemasaran langsung dan bantuan permodalan pada pelaku UMKM batik. Penyerapan hasil produksi mitra Koperasi dilakukan untuk memberikan kepastian nilai jual dan perluasan pasar.
CSR Advisor PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), Fahmi Sultan Alatas, melalui Koperasi dan Rumah Batik, distribusi produk batik kini sudah menjangkau kota-kota besar di Pulau Jawa dan luar Jawa seperti Sumatra. "Jadi tidak hanya sekadar pemberian atau pelatihan, tapi kami berupaya untuk melihat sejauh mana dampaknya kepada masyarakat para pelakunya," kata Fahmi, belum lama ini.
Ia menekankan bahwa koperasi hadir bukan hanya sebagai pengelola ekonomi, tetapi juga instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan anggota.
Di sisi lain, upaya regenerasi melalui intervensi struktural sebenarnya terus berjalan melalui program inkubasi korporasi. Salah satunya digerakkan oleh Rumah Batik TBIG. Sejak pertengahan dekade lalu ini mencoba menyusun kurikulum formal untuk menjembatani kesenjangan keahlian membatik di kalangan usia produktif.
Koordinator Trainer Rumah Batik TBIG, Ahmad Faisal, menjelaskan bahwa lembaga tersebut menerapkan dua pilar utama dalam pelatihan, yakni Kelas Reguler dan Kelas Difabel. Pada kelas reguler, siswa wajib menempuh pendidikan intensif selama enam bulan yang terbagi ke dalam 40 kali pertemuan sebelum akhirnya dinyatakan lulus atau diwisuda.
"Kami memulai program ini dengan fokus menyisir anak-anak muda, termasuk membuka ruang inklusif bagi penyandang disabilitas seperti tuna rungu dan tuna daksa sejak tahun 2022," ujar Faisal saat ditemui di sela-sela kegiatannya, Kamis (9/7/2026).
Untuk lebih inklusif dan mengoptimalkan komunikasi di kelas difabel, pihak manajemen bahkan merekrut tenaga pengajar khusus lulusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang juga merupakan alumni Rumah Batik angkatan 2017.
Sejak tahun 2016, Rumah Batik TBIG mencatat telah meluluskan sekitar 500 alumni, dengan rincian 50 di antaranya merupakan kelompok difabel, serta 50 orang lainnya kini bertahan di dalam program inkubasi lanjutan. Meski demikian, Faisal mengakui bahwa mencetak seorang pengrajin hingga benar-benar mandiri dan mampu mendirikan galeri bisnis sendiri bukanlah perkara mudah.
"Tantangannya adalah kecenderungan anak muda sekarang yang lebih menyukai proses instan. Padahal, inkubasi batik membutuhkan ketahanan waktu yang panjang. Sebagai contoh, dua alumni kami ada yang belajar sejak 2019 dan baru bisa membangun workshop mandiri pada tahun ini," kata Faisal.
Kondisi tersebut diperparah oleh terjadinya pergeseran peta ketenagakerjaan sektor informal di Kabupaten Pekalongan. Faisal mengungkapkan, saat ini wilayah Pekalongan sedang mengalami transisi dari pusat kerajinan batik tulis tradisional menuju dominasi industri garmen berskala rumahan. Menjamurnya permintaan baju siap pakai (ready-to-wear) berharga murah untuk pasar e-commerce membuat konveksi jahit tumbuh subur.
Faisal mengakui, realita di lapangan menunjukkan bahwa lulusan SMP maupun SMA di Pekalongan kini jauh lebih tertarik mempelajari keterampilan menjahit garmen ketimbang memegang canting batik. Proses belajar menjahit dinilai lebih singkat dengan kepastian pendapatan harian yang lebih cepat didapatkan dibandingkan dengan rumitnya tahapan memproduksi batik tulis tradisional.
"Anak muda sekarang di sini dalam tanda kutip lebih menyukai pekerjaan menjahit kayak gitu. Memang ini jadi tantangan tersendiri buat keberlangsungan batik tulis," imbuhnya.
