Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

Charles dan Freedy Bawa Harapan untuk Kopi Bondowoso

Penulis : Abror Rosi - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

04 - May - 2026, 16:41

Placeholder
Petani kopi sekaligus Direktur PT. Mulya Indonesia Timur, Mulyadi, sedang menemani Charles dan Freedy meninjau kebun (Foto: Abror Rosi/JatimTimes)

JATIMTIMES - Pada pagi yang masih diselimuti embun, Minggu (3/5/2026), langkah kaki Charles dan Freedy pelan-pelan menapaki lereng pegunungan Ijen. Udara dingin menyapa, aroma tanah basah bercampur wangi daun kopi yang segar. Di hadapan mereka, hamparan kebun kopi milik Mulyadi terbentang luas, sunyi, namun menyimpan cerita panjang tentang harapan.

Kedua tamu dari Singapura itu datang bukan sekadar berkunjung. Ada rasa ingin tahu yang tulus, sekaligus harapan besar yang mereka bawa untuk membuka jalan agar kopi Bondowoso melintasi batas-batas negeri, hingga ke pasar Eropa.

Baca Juga : Daftar Harga BBM Non-Subsidi di Pertamina, BP AKR, dan Vivo usai Kompak Naik Per-4 Mei 2026

Di antara rimbunnya pepohonan, mereka memperhatikan setiap detail. Buah-buah kopi merah dipetik dengan hati-hati, seolah setiap biji menyimpan kehidupan. Proses demi proses dijalani dengan kesabaran dari panen, pengolahan, hingga akhirnya menjadi secangkir kopi yang siap dinikmati. Bagi Charles, apa yang ia saksikan dari penjelasan Mulyadi bukan hanya soal produksi, melainkan sebuah harmoni yang utuh antara manusia dan alam.

“Kopi Bondowoso memiliki cita rasa yang otentik dan natural. Ini punya potensi besar untuk pasar global, terutama Eropa,” ujarnya pelan, seakan tak ingin merusak ketenangan pagi. Bahkan, ia menyebut kualitas kopi dari tanah ini sebagai sesuatu yang “fantastik”.

Ketertarikan itu tumbuh bukan tanpa sebab. Dalam beberapa tahun terakhir, kopi Bondowoso dikenal sebagai salah satu kopi specialty dengan karakter rasa yang khas. Namun lebih dari itu, cara para petani merawat alam menjadi cerita yang tak kalah berharga.

Mulyadi memahami betul nilai itu. Di kebunnya, alam bukan sekadar tempat menanam, tetapi bagian dari kehidupan yang harus dijaga. Ampas kopi Ia dikembalikan ke tanah sebagai pupuk, siklus kecil yang menjaga keseimbangan tetap hidup.

Ia teringat masa ketika, antara 2014 hingga 2017, nama Bondowoso sempat bersinar di panggung kopi specialty dunia. Kini, harapan itu seperti menemukan napas barunya.

“Yang kami jaga bukan hanya rasa, tapi juga alamnya,” tuturnya, dengan nada yang sederhana namun penuh keyakinan.

Bagi Charles dan Freedy, apa yang dilakukan Mulyadi sejalan dengan misi yang lebih luas. Mereka telah berkeliling ke berbagai negara, mencari potensi komoditas pangan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan global. Singapura, dalam perannya, menjadi simpul penting dalam rantai distribusi tersebut. 

Namun rencana mereka tidak berhenti pada ekspor. Ada visi yang lebih dalam, yaitu mendorong peningkatan kualitas melalui teknologi, memperkuat sumber daya manusia, sekaligus memastikan kesejahteraan petani tetap menjadi pusat perhatian. Sebuah upaya untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan.

Baca Juga : Overparenting Jadi Tren Ortu Zaman Modern: Pakar Usul Buku Saku Parenting dan Digital Detox

“Kami juga berbicara tentang bagaimana menghadapi krisis iklim dan pertumbuhan populasi dunia,” tambah Charles.

Mulyadi pun memandang kunjungan ini lebih dari sekadar peluang bisnis. Ia melihatnya sebagai pintu menuju perubahan yang lebih luas. Di mana petani bisa hidup lebih layak, alam tetap lestari, dan kopi Bondowoso dikenal bukan hanya karena rasanya, tetapi juga nilai-nilai yang menyertainya.

Ia membayangkan masa depan di mana kebun-kebun tetap hijau, generasi muda tak ragu menjadi petani, dan setiap cangkir kopi membawa cerita tentang keseimbangan.

“Kami ingin usaha tetap berjalan, kesejahteraan meningkat, tapi alam tetap terjaga. Sekaligus mengenalkan budaya ketimuran yang kami pegang,” ucapnya.

Di tengah dunia yang terus berubah, di bawah bayang-bayang krisis iklim dan kebutuhan pangan yang kian mendesak, secangkir kopi dari Bondowoso kini berbicara lebih dalam.

Ia bukan lagi sekadar minuman, melainkan kisah tentang manusia, alam, dan harapan akan masa depan yang tetap selaras.


Topik

Ekonomi Charles Freedy Tamu Singapura kopi Kopi Bondowoso



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Lumajang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Abror Rosi

Editor

Sri Kurnia Mahiruni