JATIMTIMES - Pendakwah Nahdlatul Ulama (NU), KH Marzuki Mustamar, melontarkan kritik terhadap program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam pernyataannya yang beredar luas di media sosial, KH Marzuki menilai program tersebut terlalu dipaksakan dan belum disesuaikan dengan kondisi masyarakat di berbagai daerah.
Menurut KH Marzuki Mustamar, penerapan satu kebijakan yang sama untuk seluruh Indonesia justru berpotensi menimbulkan ketidakadilan. Sebab, kondisi ekonomi, kebutuhan masyarakat, hingga kemampuan daerah berbeda-beda.
Baca Juga : Wali Kota Eri Tetapkan Posyandu Wethan Ceria Percontohan di Surabaya
“Program yang terlalu dipaksakan. Satu Indonesia harus sama, padahal kondisi di bawahnya nggak sama, itu dzolim,” ujar KH Marzuki Mustamar dalam video yang beredar, seperti dikutip dari Instagram @kabarmahasiswa.id.
Ia secara khusus menyoroti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di sekolah-sekolah modern atau sekolah favorit. Menurutnya, banyak siswa di sekolah tersebut berasal dari keluarga mampu dan sudah terbiasa mengonsumsi makanan dengan kualitas lebih baik dari paket MBG.
“Memaksakan MBG di sekolah-sekolah modern, sekolah favorit itu konyol. Mereka itu orang-orang kaya. Makanannya sehari-hari kualitasnya melebihi MBG,” tegasnya.
KH Marzuki juga menilai jika nilai paket makanan hanya sekitar Rp10.000, maka program tersebut berpotensi kurang diminati para siswa.
“Kalau hanya standar MBG Rp10.000 ya cuma diliatin tok,” lanjutnya.
Karena itu, KH Marzuki meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh agar anggaran negara digunakan lebih efektif dan tepat sasaran. Menurutnya, bantuan semestinya diprioritaskan bagi masyarakat miskin dan daerah tertinggal.
“Saya meminta supaya pemerintah tetap mengevaluasi. Dana darurat hanya diberikan kepada pihak yang memang darurat, yakni orang melarat, orang miskin Indonesia terluar, terjauh, monggo. Dan jika perlu MBG plus,” ujarnya.
Ia menilai kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan justru harus menjadi prioritas utama dalam program bantuan sosial maupun pemenuhan gizi.
Baca Juga : Gebrakan Sekwan Jatim Ali Kuncoro: Bawa Sekretariat DPRD Jatim Masuk Kelompok Elit Lembaga Transparan
Selain MBG, KH Marzuki Mustamar juga menyinggung program Koperasi Merah Putih. Menurutnya, daerah perkotaan yang sudah maju dan memiliki sistem ekonomi baik tidak seharusnya dipaksa menggunakan konsep seragam.
“Terus Koperasi Merah Putih, perkotaan yang maju tetap diwajibkan gedungnya harus begini,” katanya.
Pernyataan tersebut merujuk pada pentingnya kebijakan yang fleksibel sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing daerah.
Sebagai informasi, Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Program ini ditujukan untuk siswa sekolah, santri, ibu hamil, dan balita guna meningkatkan kualitas gizi masyarakat serta menekan angka stunting di Indonesia.
Namun, sejak awal wacana ini diluncurkan, program MBG juga menuai berbagai tanggapan dari publik, mulai dari dukungan hingga kritik soal anggaran, teknis pelaksanaan, dan sasaran penerima manfaat.
Sebagai catatan, pernyataan KH Marzuki Mustamar tersebut merupakan pandangan pribadi yang disampaikan sebagai bentuk kritik dan masukan terhadap kebijakan publik. Hingga kini, pemerintah terus menjalankan program Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu upaya peningkatan gizi masyarakat, sembari membuka ruang evaluasi agar pelaksanaannya semakin tepat sasaran dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
