free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Saat Surabaya Menjadi Kekuatan Besar di Jawa dan Menantang Mataram (1600–1625)

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : A Yahya

25 - Mar - 2026, 10:33

Placeholder
Ilustrasi suasana pelabuhan Surabaya pada awal abad ke-17. Sebagai bandar utama di pesisir utara Jawa, Surabaya menjadi pusat perdagangan beras, rempah, dan kain yang menghubungkan pedalaman Jawa dengan Maluku, Malaka, hingga Kalimantan. Dari pelabuhan inilah jaringan maritim Surabaya membangun kekuatan ekonomi yang mampu menandingi Mataram.(Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dalam sejarah Jawa awal abad ke-17, Surabaya bukan sekadar sebuah kota pelabuhan di muara Kali Mas. Ia menjelma menjadi poros hegemoni pesisir utara Jawa, sanggup menyaingi, bahkan menandingi dominasi Mataram di pedalaman. Melalui jaringan sekutu, daerah taklukan, hingga kolaborasi pedagang lintas nusantara, Surabaya menampilkan diri sebagai kerajaan maritim dengan daya pukau spiritual, politik, dan ekonomi. Namun di balik gemuruh kejayaan pelabuhan, bentang rawa-rawa, dan barisan tembok kota, tersimpan pula riwayat perang panjang melawan Mataram — sebuah babak pertempuran ideologi, kedaulatan, dan dendam dinasti yang meneteskan darah di antara sawah, loji dagang, dan jalur rempah-rempah.

Artikel ini menelusuri bagaimana Surabaya mengukir supremasi pesisir sejak 1600-an, memerintah daerah-daerah jajahan di Jawa dan luar Jawa, hingga akhirnya terlibat dalam rangkaian konflik brutal yang membuka jalan ekspansi Mataram di bawah Panembahan Hanyakrawati dan Sultan Agung. Dari kronik Belanda di loji Gresik, catatan Valentijn, hingga babad Jawa, narasi ini berusaha membedah makna peristiwa dan strategi kuasa di masa itu.

Gerbang ampel

Panggung Pesisir: Kota Surabaya dan Jaringan Pelabuhan

Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku

Di awal abad ke-17, Surabaya berdiri sebagai salah satu bandar terpenting di pesisir utara Jawa. Keunggulan geografis di muara Kali Mas menjadikan kota ini simpul perdagangan antara pedalaman Jawa, Maluku, Malaka, dan bahkan pelabuhan-pelabuhan di Borneo dan Sulawesi. Tome Pires, penjelajah Portugis pada abad ke-16, pernah menggambarkan Gresik — mitra dagang terdekat Surabaya — sebagai pelabuhan gemah yang menjadi pangkal lalu lintas beras, kain, dan rempah-rempah. Keadaan ini tak berubah drastis satu abad kemudian.

Bagi Surabaya, kekuatan ekonomi berpadu erat dengan keunggulan maritim. Para saudagar pribumi menguasai perahu-perahu niaga yang sanggup menjelajah hingga Banda, Solor, Maluku, dan Malaka. Catatan Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC, menegaskan: “Yang satu kemari, yang lain ke sana dengan perahu-perahunya untuk mencari nafkah.” (Colenbrander & Coolhaas 1919–1953). Perdagangan ini menjadi nafas hegemoni Surabaya, sekaligus menumbuhkan struktur elite pesisir yang terhubung dengan aristokrasi Islam di daerah-daerah sekutu.

Kerajaan surabaya

Daerah Taklukan: Dari Gresik ke Sukadana

Selain membangun sekutu, Surabaya mengukuhkan diri sebagai kerajaan dengan daerah jajahan di Jawa maupun luar Jawa. Catatan Artus Gijsels (1622) menyebut Gresik, Jortan (Jortan), dan Sedayu di bawah kendali Surabaya. Valentijn (1724–1726) menambahkan Pasuruan dan Blambangan sebagai wilayah taklukan. Penaklukan Blambangan bahkan tercatat dalam laporan pelayaran Lodewijcksz, Rouffaer, dan Ijzerman (1915–1929). Blambangan di ujung timur Jawa menjadi buffer zone penting melawan ancaman Mataram dari barat.

Peta kekuasaan Surabaya tidak berhenti di Jawa. Di Kalimantan, wilayah Sukadana dan Landak tercatat sebagai jajahan Surabaya. Surat dari Gresik, tertanggal 26 Mei 1610, mengungkap Ratu Sukadana yang berselisih dengan orang Belanda mengirim utusan ke Surabaya. Gubernur Kendal pada Maret 1622 menegaskan hal serupa, menyebut Sukadana bagian integral dari hegemoni Surabaya.

Begitu pula Banjarmasin (Baengarmassin). Meski kronik De Kroniek van Bandarmasin (Cense 1928) tidak memperkuat klaim ini, jejak pengaruh Jawa terlihat jelas. Bahasa Melayu Banjar sarat dengan kata-kata Jawa, sementara di Keraton Martapura ditemukan balok-balok kayu beraksara Jawa. Sultan Agung sendiri, pasca menaklukkan Sukadana, sempat merencanakan ekspedisi ke Banjarmasin dengan bantuan kapal Belanda (De Jonge 1862–1875).

Di seberang Laut Jawa, Pulau Bawean atau Bavijan juga disebut sebagai wilayah Surabaya. Gubernur Kendal menambahkan Lave Kate, yang barangkali merujuk ke Labetaka di Kepulauan Banda, sebagai area pengaruh Surabaya. Meski kekuasaan Surabaya di Banda tidak pernah mutlak, Laksamana Cornelis Matelieff pada tahun 1608 mendengar rencana ekspansi Surabaya ke kepulauan itu, yang kemudian terhalang oleh konflik internal penduduk Banda sendiri.

Borneo

Struktur Kekuasaan: Raja, Adipati, dan Loji

Raja Surabaya memerintah melalui jaringan adipati di kota pelabuhan dan bupati di pedalaman. De Graaf (2001) mencatat bahwa raja-raja Surabaya mengangkat bupati di Japan, Wirasaba, dan Kediri, meskipun seringkali tanpa restu resmi dari pejabat setempat. Hubungan antara Adipati Surabaya dan Adipati Pasuruan diduga erat secara keluarga. Pada tahun 1614, Pasuruan diperintah oleh putra Raja Surabaya, Adipati Pekik, sebagaimana tercatat dalam Babad Tanah Jawi VIII.

Kedekatan ini menjelaskan mengapa garis pantai utara Jawa, dari Tuban, Gresik, Jortan, Sedayu, hingga Pasuruan, dapat diikat di bawah pengaruh Surabaya. Luasnya jalur perairan memudahkan mobilisasi pasukan dan armada dagang. Ketika Gresik dibuka untuk kantor dagang Belanda pada 27 April 1602, Raja Surabaya berkuasa dari Sedekari, yang kini menjadi Sidoarjo. Ia bersikap pragmatis dengan memberi izin pendirian loji dengan syarat orang Belanda tidak mengganggu orang Portugis, meskipun sebelumnya kapal Belanda pernah merampas kapal perang Portugis di pelabuhan yang sama.

Raja surabaya

Loji Gresik: Sumber Informasi Perang

Keberadaan kantor dagang Belanda di Gresik menjadi jendela berharga untuk menelusuri dinamika perang Surabaya–Mataram. Surat-surat dari loji Gresik (1602–1615) menyimpan berita bukan hanya perdagangan, melainkan juga rumor penaklukan. Pada 22 Mei 1610, Laksamana Pieter W. Verhoeven menuliskan kecemasan: “Di sini tersiar berita bahwa Mataram, yang dipanggil Kaisar Jawa, merencanakan menyerang semua tempat ini, yang sangat menakutkan kami.” (Commelin 1616).

Rencana Panembahan Hanyakrawati untuk menghancurkan Surabaya, Gresik, dan sekutunya memang bukan isapan jempol. Andries Soury dari Banten menulis perang berlangsung kurang lebih empat tahun sejak 1611 (De Jonge 1862–1875). Komandan Hendrick Brouwer, pada 1611, melihat langsung dampak kehancuran di pesisir: ladang rusak, rakyat menderita, namun Raja Surabaya tak kunjung menyerah.

Hanyakrawati

Perang Berulang: Serangan Mataram 1610–1613

Baca Juga : Polres Gresik Perketat Keamanan dan Edukasi Wisatawan Pantai Dalegan

Tahun-tahun antara 1610–1613 menandai fase awal ekspansi militer Mataram di bawah Panembahan Hanyakrawati. Strateginya sederhana tetapi efektif: membakar pelabuhan sekutu Surabaya, memutus logistik, dan menghancurkan tembok kota dagang. Pada 31 Agustus 1613, Gresik jatuh ke tangan pasukan Mataram. Surat Gubernur Jenderal Pieter Both menulis: “Gresik telah dikuasai dan dibakar oleh Mataram Raya, tembok-tembok loji diratakan dengan tanah.” (Colenbrander & Coolhaas 1919–1953). Jortan, kota pelabuhan lain, juga rata dengan bumi.

Meskipun kronik Jawa sering luput menyinggung peristiwa ini, tarikh Babad Sangkala mencatat perjalanan ke Surabaya (1531 J / 1609) dan ekspedisi ke Gresik (1535 J / 1613). Satu nama kunci muncul: Adipati Martalaya, komandan lapangan Mataram. Pada 1612, ia memimpin ekspedisi ke Lamongan, memperluas zona penekanan di sekitar Surabaya.

Mataram

Strategi Bertahan: Rawa, Benteng, dan Aliansi

Salah satu keunggulan Surabaya terletak pada benteng alamiah berupa rawa-rawa di sekeliling kota. Serangan frontal jarang berhasil. Ketika pasukan Panembahan Hanyakrawati menghantam pesisir, Surabaya bertahan dengan memindahkan kekuatan ke pelabuhan sekutu. Hubungan dengan armada dagang Malaka dan Makassar memperpanjang napas perlawanan. Pada 8 November 1611, Brouwer bahkan mencatat kemarahan Raja Surabaya terhadap pelayaran VOC ke Banda yang mengancam jalur rempahnya.

Di sela sela blokade Mataram, Surabaya berusaha menegosiasikan dukungan persenjataan. Meriam dari VOC diterima pada tahun 1612 sebagai pengganti meriam yang sebelumnya dijanjikan Portugis namun tidak pernah tiba. Kiai Reksadana, seorang pejabat Tionghoa di Gresik, menjadi perantara diplomasi tersebut, menandakan betapa beragamnya jaringan elite yang berperan di kawasan pesisir.

Benteng

Dendam Sejarah: Dari Hanyakrawati ke Sultan Agung

Perang Surabaya–Mataram bukan sekadar konflik dagang, melainkan pertempuran dua pusat ideologi kuasa Jawa. Mataram, dengan visi Nagari Agung di pedalaman, memandang pesisir sebagai daerah renegade yang harus dijinakkan. Surabaya sebaliknya, menimba legitimasinya dari semangat Islam pesisir, jaringan wali, dan solidaritas saudagar.

Ketika Panembahan Hanyakrawati wafat, tongkat estafet penaklukan jatuh ke tangan Sultan Agung. Puncak ekspansi terjadi pada tahun 1622 hingga 1625. Dalam surat surat Sultan Agung, Landak dan Sukadana disebut sebagai negeri negeri yang rakyatnya keras kepala, simbol dari jaringan resistensi Surabaya di luar Jawa. Dengan menaklukkan wilayah pesisir, Sultan Agung berupaya membendung jalur rempah Nusantara menuju Batavia sekaligus meruntuhkan kekuatan elite pesisir.

Sultan Agung

Makna Hegemoni Pesisir

Antara 1600–1625, Surabaya menjadi cermin betapa pesisir utara Jawa dapat menantang dominasi Mataram. Ia berdiri bukan sekadar kota dagang, melainkan kerajaan maritim dengan jaringan taklukan, saudagar perantau, dan diplomat multietnis. Pesisir Surabaya menegaskan bahwa di antara rawa, benteng, dan loji, lahir pula narasi dendam sejarah, cita-cita kebebasan, dan kehormatan Islam pesisir yang tak mudah ditundukkan.

Bagi peneliti modern, kronik Belanda di loji Gresik, surat-surat VOC, dan serpihan babad Jawa menjadi puzzle untuk memahami benturan hegemoni ini. Surabaya, dengan segala keruntuhannya, meninggalkan pelajaran bahwa jalur air, rempah, dan kepercayaan spiritual dapat menorehkan riwayat perlawanan rakyat, sebuah ingatan panjang yang terus hidup di pusaran rawa, muara Kali Mas, dan debur Laut Jawa.


Topik

Peristiwa Surabaya Mataram sejarah Surabaya kota Surabaya



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Lumajang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

A Yahya