JATIMTIMES - Memasuki awal Ramadan 1447 Hijriah, sektor perhotelan di Kota Malang menunjukkan sinyal positif. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang mencatat tingkat hunian kamar tetap stabil di tengah tren penurunan perjalanan selama bulan puasa dengan okupansi hotel saat ini berada di kisaran 40 hingga 60 persen.
Hal tersebut diungkapkan Ketua PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki. Ia menyebut bahwa kondisi tersebut lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga : 7 Buah Terbaik untuk Sahur agar Tidak Gampang Haus dan Lapar Seharian
“Kalau dibandingkan dengan tahun lalu yang sempat rendah, tahun ini kami lebih optimistis. Untuk awal puasa, okupansi masih bisa bertahan di kisaran 40 sampai 60 persen,” ungkap Agoes, Senin (23/2/2026).
Capaian tersebut tidak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan oleh pengelola hotel untuk tetap menarik minat tamu. Meski Ramadan identik dengan periode low season bagi sektor perhotelan, sejumlah hotel di Kota Malang mampu beradaptasi dengan menghadirkan berbagai program dan penawaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat selama bulan suci.
Salah satu strategi utama yang diandalkan adalah memaksimalkan potensi dari sektor makanan dan minuman, khususnya melalui penyediaan paket berbuka puasa atau iftar. Program ini dinilai cukup efektif dalam mendatangkan pengunjung, baik dari tamu yang menginap maupun masyarakat umum.
Selain itu, hotel-hotel juga menawarkan berbagai promo kamar dengan harga yang lebih kompetitif. Diskon tarif, paket bundling, hingga promo menginap bertema Ramadan menjadi daya tarik tersendiri, khususnya bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana berbeda selama bulan puasa.
“Pendapatan selama Ramadan banyak kami gantungkan dari program iftar. Itu yang sekarang digarap serius oleh teman-teman hotel supaya target pendapatan tetap bisa tercapai,” imbuh Agoes.
Selain mengandalkan paket berbuka puasa, hotel-hotel di Kota Malang juga menawarkan berbagai promo kamar untuk menarik minat masyarakat. Program diskon, bundling, hingga penyesuaian tarif menjadi langkah yang ditempuh untuk mendorong okupansi.
Baca Juga : Sego Boran Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia
“Kami juga memberikan banyak promo kamar, mulai dari potongan harga sampai paket bundling. Intinya, selama Ramadan ini harga dibuat lebih kompetitif agar masyarakat tertarik untuk menginap,” terang Agoes.
Agoes menambahkan, adanya sejumlah pembatasan operasional selama Ramadan membuat pelaku usaha harus lebih kreatif dalam menyusun strategi. Ia berharap berbagai inovasi yang dilakukan mampu menjaga stabilitas industri perhotelan di Kota Malang hingga periode Lebaran.
Ia pun optimistis, tren positif ini dapat menjadi modal awal yang baik bagi pemulihan dan pertumbuhan sektor perhotelan di Kota Malang sepanjang tahun 2026.
