Ikut Berlari di Tengah Hujan, Menteri Risma Ikut Simulasi Kebencanaan | Lumajang TIMES

Ikut Berlari di Tengah Hujan, Menteri Risma Ikut Simulasi Kebencanaan

Sep 12, 2021 10:49
Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini saat memberikan arahan tentang kesiapsiagaan terhadap bencana.(Foto: Biro Humas Kemensos RI)
Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini saat memberikan arahan tentang kesiapsiagaan terhadap bencana.(Foto: Biro Humas Kemensos RI)

JATIMTIMES - Kementerian Sosial (Kemensos) menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Setidaknya hal itu yang menjadi atensi oleh Menteri Sosial (Mensos) RI, Tri Rismaharini saat melakukan simulasi kebencanaan di Pacitan, Sabtu (11/9/2021). 

Bukan hanya sekedar menekankan saja, Menteri Risma juga tak segan turut berlari bersama warga di tengah guyuran hujan. Untuk melakukan simulasi menghadapi bencana, mencari tempat yang lebih tinggi, bergerak cepat menuju bukit terdekat. 

Baca Juga : Curah Hujan Tinggi, Plengsengan Ambrol di Kota Batu Bahayakan Pelayanan Kesehatan

Dengan waktu yang relatif singkat, yakni sekitar 20 menit, Menteri Risma berusaha menghindar dari bencana tsunami yang sedang mengancam. Simulasi tersebut juga melibatkan personel seperti Taruna Siaga Bencana (Tagana) lengkap dengan  peralatan seperti tenda, alas tidur, permakanan, Mobil Dapur Umum Lapangan dan truk tangki air.

"Simulasi dilakukan di Pacitan karena memang di sini diperhitungkan paling tinggi dampak dari bencana. Mudah-mudahan tidak terjadi. Tapi kalau memang terjadi diharapkan dampaknya bisa diminimalkan," ujar Risma, setelah kegiatan simulasi.

Risma juga menegaskan agar tim dari Tagana dan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) termasuk Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) agar benar-benar memastikan lebih detil jalur evakuasi. Termasuk di tengah kota padatnya penduduk. Sebab menurutnya, kecepatan evakuasi bencana sangat perlu diperhatikan. 

Mensos juga berpesan kepada pemerintah daerah dan pilar sosial untuk memperhatikan serius penyelamatan terhadap kelompok rentan, termasuk lanjut usia.

"Pastikan kalian membuat simulasi lebih detil kemana masyarakat harus menyelamatkan diri. Perhitungkan yang mengungsi adalah lanjut usia dengan waktu hanya sekitar 20 menit. Kasih titik di mana saja mereka tinggal. Ini akan memudahkan langkah evakuasi," imbuh Risma.

Dalam kesempatan tersebut, Mensos bersama Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati dan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji menuju ke titik-titik evakuasi yang ditentukan. Mensos memimpin pertemuan kecil memverifikasi peta data dengan kondisi lapangan di pinggir sungai di kawasan Dusun Babakan, Desa Kembang.

Kepada bupati, Mensos berpesan untuk menyiapkan jalur evakuasi dan titik kumpul warga masyarakat. Pertemuan kecil menyepakati ada 12 titik evakuasi warga yang menjadi informasi bagi Kemensos untuk mengirimkan _bufferstock_.

Kegiatan simulasi evakuasi menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami di Kabupaten Pacitan tersebut merupakan bagian dari langkah mitigasi bencana. Upaya mitigasi bencana dilakukan dengan memperhatikan hasil studi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). 

Dalam beberapa kesempatan, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan berdasarkan penelitian dan pemodelan BMKG, wilayah selatan Jawa Timur menyimpan potensi bencana gempa bumi yang cukup besar. Daerah yang diprediksi terdampak tersebut adalah Pacitan, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Malang Selatan, Lumajang, dan Banyuwangi.

Baca Juga : Diskominfo Pamekasan Gandeng 8 KIM Sosialisasikan DBHCHT

Meskipun belum ditemukan alat yang dapat memprediksi secara tepat kapan bencana terjadi, namun Mensos menekankan, perlu upaya serius, terencana dan terorganisasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah menghadapi kemungkinan terjadi bencana. 

Menurut Mensos, simulasi evakuasi masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami pada hari ini merupakan bentuk langkah nyata dan serius menghadapi bencana.

"Saya juga sudah perintahkan jajaran untuk secara periodik dan terencana melakukan sosialisasi mitigasi bencana di kawasan yang rawan termasuk Pacitan," kata Mensos.

Langkah Kemensos berikutnya adalah membentuk Kawasan Siaga Bencana (KSB) di beberapa daerah di Selatan Jawa. Di Pacitan telah dibentuk lima KSB. Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana, KSB melakukan simulasi secara berkala dengan melibatkan kelompok rentan yakni perempuan, lanjut usia, penyandang disabilitas dan anak-anak. 

"Pembentukan KSB  di Kabupaten Pacitan dimaksudkan untuk melatih masyarakat melakukan evakuasi mandiri sebelum datang pertolongan ketika terjadi bencana" terang Mensos.

Dalam kegiatan ini, disimulasikan pada hari Sabtu, 11 September 2021 jam 10.00 WIB terjadi gempa bumi dengan magnitudo 8,7, epicenter 300 km Tenggara Pacitan dan kedalaman 19 km. Gempa bumi menimbulkan tsunami yang berdampak pada seluruh pesisir Jawa Timur termasuk wilayah Pacitan dengan ketinggian gelombang tsunami 25-28 m dari muka air laut di tepi pantai. 

Waktu kedatangan gelombang tsunami 26 menit setelah goncangan gempa bumi. Diperlukan waktu maksimal 5 menit untuk penyebarluasan peringatan dini, sehingga _golden time_ (waktu tersisa untuk evakuasi) 22 menit. Gelombang tsunami masuk maksimal 6 km ke Kota Pacitan, mencapai beberapa tempat strategis dan vital. Ketinggian air bervariasi mulai dari 22 m di wilayah pantai/pesisir, 11-17 m di wilayah bantaran sungai, 6-11 m di wilayah tengah (termasuk Alun-Alun), dan 10-12 m di Bantaran Sungai Grindulu.

Topik
simulasi tsunami simulasi gempa mensos risma siap siaga bencana tanggap bencana

Berita Lainnya