Walau sampai malam hari berjualan, Muhammad Imsyak tetap jaga penampilan (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)
Walau sampai malam hari berjualan, Muhammad Imsyak tetap jaga penampilan (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)

Tidak seperti penjual roti keliling kebanyakan, Muhammad Imsyak (47) tampil beda ketika menjajakan barang daganannya. Bersepatu mengkilat, menggunakan kemeja lengan panjang, pakai dasi dan dibalut rompi warna gelap, sehingga tampak begitu rapi.

Ketika kami temui disela-sela berjualan roti di sebuah kedai kopi, Senin (27/9) malam, Muhammad Imsyak masih tetap mengenakan pakaian lengkap seperti biasanya.

Baca Juga : Gaya Tiara Andini Pakai Outfit Colorful Ala 90-an, Ceria dan Playfull 

 

Ternyata Muhammad Imsyak punya alasan sendiri kenapa menggunakan dasi saat berjualan roti keliling.

"Saya senang Indonesia ini kalau kelihatan maju seperti diluar negeri. Kalau pedagang seperti saya selalu berpakaian rapi, mungkin akan memotivasi orang untuk bekerja dengan baik. Dengan begitu Indonesia akan maju," kata Muhammad Imsyak.

Menurut pria 47 tahun yang masih memilih bujangan ini, penjual roti seperti dirinya juga bisa tampil rapi, dan ia meyakini dengan penampilan yang rapi seperti ini dagangannya akan semakin digemari pelanggannya.

“Saya lebih nyaman dengan pakaian seperti ini. Rapi dan saya selalu berusaha menjaga kerapian ini dengan baik, walau saya berjualan sampai malam hari,” kata Muhammad Imsyak lagi. 

Karena setiap hari berjualan, Muhammad Imsyak mengkoleksi lebih dari 20 dasi. Ia pun membawa tas kerja warna hitam, seperti layaknya orang yang bekerja di kantoran.

"Saya jualan di perumahan dan kantor-kantor. Biasanya muai siang sampai malam. Sekarang ini jam kantor dikurangi, jadi saya lebih banyak jualan di perumahan-perumahan," ujar Muhammad Imsyak.

Baca Juga : Korean Look Pakai Baju Sehari-hari, Coba Ikuti Padu Padan ala Vanessa Andrea Ini 

 

Dengan menggunakan motor, Muhammad Imsyak mengaku membawa sampai 100 roti setiap harinya. Seluruhnya roti sisir dengan harga Rp 3 ribu untuk satu roti.

Muhammad Imsyak mengaku pernah merantau ke Surabaya. Namun karena penghasilannya tidak mencukupi, pria asal jalan Kyai Ghozali Lumajang ini memilih pulang ke Lumajang untuk berjualan roti.

"Saya sudah satu tahun berjualan roti, dan hasilnya lumayan dibandingkan dengan harus merantau keluar kota," ujar pria yang juga hobby nyanyi tersebut.