Dr. H. Muhammad Masyhuri,MA (Foto: Bramastyo Dhieka Anugerah / JatimTIMES)
Dr. H. Muhammad Masyhuri,MA (Foto: Bramastyo Dhieka Anugerah / JatimTIMES)

Institut Agama Islam Syarifuddin Wonorejo Lumajang akan menjadi perguruan tinggi pertama yang membuka Program Pascasarjana. Direncanakan, berbagai persyaratan sudah mulai dipenuhi, sehingga 8 bulan dari sekarang, program Pascasarjana IAI Syarifuddin akan dimulai.

"InsyaAllah 8 bulan lagi akan mulai dibuka, atau paling lama 1 tahun dari sekarang," kata Wakil Rektor 1 IAI Syarifuddin, Dr. H. Muhammad Masyhuri MA.

Baca Juga : Siswa SMA/SMK Diminta Setor Rekening, Akun IG Dindik Jatim Diserbu

Persyaratan pembukaan program Pascasarjana dengan minimal tenaga pengajar 6 doktor juga sudah memenuhi bahkan saat ini IAI Syarifudiin sudah memiliki lebih dari 6 doktor.

"Penyelenggaraan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) juga bisa menggunakan gedung perkuliahan yang sudah ada. Tapi IAI Syarifuddin sendiri juga sudah membebaskan lahan seluas 3 hektar di sebelah timur kampus yang juga disiapkan untuk S2," jelasnya lagi.

Dijelaskan Muhammad Masyhuri, persyaratan sudah siap baik jumlah doktor minimal 6 orang, akreditasi kampus juga sudah B dan jurusan pada program S1 semuanya B.

"Kami tinggal menunggu kunjungan dari Kopertais untuk menindaklanjuti penyelenggaraan program S2,” kata Masyhuri lagi.

Untuk urusan pembiayaan, masih kata Masyhuri, kedepan program S2 tetap menggunakan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang akan disesuaikan dengan kondisi di Kabupaten Lumajang.

Diakui, untuk mahasiswa Program S1 selama ini cenderung didominasi oleh lulusan pesantren. Namun untuk S2, Masyhuri memprediksi mahasiswa program S2 nanti justru lebih heterogen  karena segmentasi dan kerjasama dengan lembaga terkait tidak semuanya berbasis keagaamaan.

Baca Juga : Dispendukcapil Kota Batu Maksimalkan Layanan dengan Program PKK Penak

“Kami membuka untuk program Magister Pendidikan Agama Islam, apabila lulus berhak menyandang gelar M.Pd.I. Prediksinya nanti mahasiswa program kami akan lebih heterogen mengingat lembaga-lembaga yang bekerjasama dengan kami lebih variatif,” imbuhnya kemudian.

Pria asli Srebet, Lumajang  ini berharap jika kedepan masyarakat Lumajang bisa mengakses pendidikan S2 tanpa harus jauh-jauh keluar kota. Apalagi situasi pandemi seperti ini, program perkuliahan di kampus cenderung  jarak jauh akibat larangan tatap muka.

"Apabila kuliah di kota sendiri tentu lebih luwes dan efisien," tegasnya.