Pohon beringan yang selama ini menjadi icon Alun-Alun Lumajang sebagai tempat paling rindang di Alun-Alun Lumajang secara perlahan mulai mengering dan tak lagi rindang. Rupanya keadaan tak luput dari pengamatan Bupati Lumajang H. Thoriqul Haq M.ML.
Dalam sebuah unggahan di media sosial Facebook, pada hari ini, Kamis (2/5) orang nomor satu di Lumajang itu menyatakan keprihatinannya, sekaligus meminta kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang untuk mengembalikan pohon beringin di Alun-Alun Lumajang seperti sedia kala.
“Saya sangat resah dengan kondisi beringin di Alun alun Lumajang. Semakin hari semakin mengering, bahkan ada beberapa dahan yang mulai patah, padahal saat ini musim hujan yang seharusnya beringin alun alun semakin rindang. Beberapa sebab diantaranya, karena adanya pembatas permanenan yang mengelilingi beringin dengan konsep air mancur,” tulis Bupati Lumajang di akun Facebook miliknya.
Sementara itu Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lumajang Ir. Yuli Haris kepada media ini mengatakan, salah satu penyebab mengeringnya daun dan dahan pohon beringin di Alun-Alun adalah dibangunnya pembatas keliling berlantai pasangan batu pecah di sekeliling pohon beringin tersebut.
“Area itu bagian atasnya dibangun dari batu pecah. Sedangkan dibawah batu pecah itu ada pasangan campuran semen dan pasir sebagai alas dari batu pecah itu. Ini menyebabkan daya serap air sangat rendah, karena air sama sekali tidak bisa meresap kedalam tanah, sedangkan akar pohon beringin tersebut ada pada area bangunan tersebut,” kata Yuli Haris via sambungan ponselnya.
Disisi lain, dibangunnya air mancur di sekeliling pohon beringin tersebut ikut justri memberikan andil dalam menurunkan kesuburan dari pohon beringin tersebut.
“Semprotan air dari air mancur tersebut sebagian mengenai akar luar yang menggantung pada pohon beringin itu. Sedangkan akar luar atau akar gantung dari pohon beringin itu berfungsi sebagai respirasi atau pernapasan pada proses fotosintesis dari beringin tersebut. Jika akar gantung tersebut secara terus menerus terkena air, maka akan menganggu proses fotosintesis dari pohon beringin tersebut,” kata Yuli Haris kemudian.
Keadaan inilah yang kemudian menyebabkan pohon beringin di Alun-Alun Lumajang secara perlahan mengering. Tak hanya daun yang jauh berkurang, sejumlah dahan dan ranting juga mulai patah, pertanda pohon beringin ini tidak lagi sehat seperti sedia kala.
Karena itu, sejak diketahui cipratan air mancur tersebut memberikan andil kepada menurunnya kesuburan air mancur, pihak Dinas Lingkungan Hidup sudah lama mematikan air mancur tersebut. “Sudah kita matikan sejak beberapa bulan lalu, karena justru tidak baik bagi pohon beringin itu,” tegas Yuli Harus kemudian.
