Melangkah Tanpa Menyerah, Perjuangan Aura dan Fitri Penyandang Disabilitas pada UTBK di UB

Editor

A Yahya

22 - Apr - 2026, 08:16

Aura Herlinda Veronika (kiri) dan Fitri Agustina dua peserta UTBK disabilitas yang mengikuti UTBK di UB (Ist)

JATIMTIMES - Langkah Aura Herlinda Veronika dan Fitri Agustina menuju ruang ujian di Universitas Brawijaya (UB) bukan sekadar perjalanan mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026. Di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB, keduanya hadir membawa cerita tentang daya juang yang tidak selalu terlihat, tetapi terasa dalam setiap langkah yang mereka ambil.

Aura adalah seorang tuna rungu yang mengandalkan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Sementara Fitri merupakan penyandang tunadaksa yang harus beradaptasi dengan keterbatasan fisik dalam aktivitas sehari-hari, termasuk saat mengikuti ujian penting seperti ini. Meski berada dalam kondisi yang berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama, membuka jalan menuju pendidikan tinggi dan masa depan yang lebih luas.

Baca Juga : Hari Kedua UTBK 2026 Diwarnai Ribuan Anomali, Pemalsuan Identitas Jadi Modus Utama

Sejak memasuki area ujian, keduanya mendapatkan pendampingan yang membantu mereka menjalani proses dengan lebih nyaman. Pemeriksaan berkas, penggunaan metal detector, hingga arahan teknis dilakukan dengan pendekatan yang ramah. Tidak ada perlakuan berlebihan, namun cukup untuk memastikan bahwa mereka diperlakukan setara sebagai peserta. Situasi ini memberi ruang bagi Aura dan Fitri untuk lebih fokus menghadapi soal demi soal tanpa terbebani hal di luar kemampuan akademik mereka.

Aura mengakui sempat diliputi rasa gugup saat awal ujian. Perasaan itu muncul wajar, terlebih dalam situasi yang menentukan masa depan. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mampu mengendalikan diri dan menyelesaikan ujian dengan baik. "Saya tadi sempat grogi, tapi akhirnya bisa lancar," ungkap Aura melalui bahasa isyarat, Rabu, (22/4/2026).

Optimisme tetap ia jaga. Ia berharap dapat melanjutkan studi di Universitas Negeri Malang (UM), kampus yang sejak lama menjadi tujuannya.

Fitri juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia mengakui soal ujian terasa cukup sulit, bahkan menantang. Namun, di balik pengakuan tersebut, tersimpan keyakinan bahwa usaha tidak akan sia-sia. "Soalnya terasa susah, tapi kalau dikerjakan dengan maksimal pasti bisa," ujarnya dengan nada optimistis.

Bagi Fitri, pengalaman mengikuti ujian ini bukan hanya soal menjawab pertanyaan, tetapi juga tentang bagaimana ia diperlakukan di dalam sistem pendidikan. Ia merasakan bahwa lingkungan ujian memberikan kenyamanan tersendiri bagi peserta disabilitas. "Petugasnya sangat ramah dan terbuka, jadi terasa sangat ramah disabilitas," katanya.

Di sisi lain, kehadiran keluarga menjadi penopang yang tidak tergantikan. Ibu Fitri menunggu dengan harapan yang sederhana namun dalam. Ia tidak menuntut lebih, selain melihat anaknya terus berusaha dan berkembang.

Jumlah peserta disabilitas yang mengikuti ujian di lokasi tersebut mencapai sembilan orang. Mereka datang dengan latar belakang dan kondisi yang berbeda, namun dipertemukan oleh tujuan yang sama. Fasilitas yang disediakan seperti pendampingan selama ujian, akses mobilitas yang memadai, serta kesiapan petugas menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana yang inklusif.

Baca Juga : Gubernur Jatim Sapa Ratusan Ojol di Malang, Bagikan BBM Gratis dan Sembako

Di sisi lain, Koordinator Pelaksana UTBK UB Arif Hidayat menambahkan, verifikasi identitas peserta menjadi salah satu titik krusial dalam pengawasan. Termasuk di dalamnya peserta difabel yang tahun ini berjumlah 13 orang, terdiri dari enam tunarungu, tiga tunadaksa, dan empat tunanetra.

Peserta difabel ditempatkan dalam satu ruang khusus dengan fasilitas yang telah disesuaikan. Seluruh kebutuhan mereka dipenuhi sesuai standar operasional, sehingga dapat mengikuti ujian secara mandiri tanpa pendamping.

“Pengawas harus jeli membaca kartu peserta. Jika ada keterangan disabilitas, maka pendekatan yang digunakan juga harus menyesuaikan agar ujian tetap berjalan sesuai prosedur,” jelasnya.

Kisah Aura dan Fitri memperlihatkan bahwa perjuangan menuju pendidikan tinggi bukan hanya soal kemampuan akademik, tetapi juga tentang ketahanan, dukungan, dan kesempatan yang setara. Di ruang ujian itu, mereka tidak sekadar menjawab soal, tetapi juga membuktikan bahwa keterbatasan tidak menghalangi langkah untuk bermimpi.

Momentum pelaksanaan UTBK ini pada akhirnya tidak hanya menjadi proses seleksi, tetapi juga cerminan bagaimana institusi pendidikan berupaya membuka ruang yang lebih adil bagi semua. Dari langkah-langkah kecil yang tampak sederhana, tersimpan harapan besar bahwa dunia pendidikan dapat terus bergerak menuju inklusivitas yang nyata, di mana setiap orang memiliki peluang yang sama untuk melangkah lebih jauh.